Herman Jaro

v3.0.42
← Back to Chronicle

MENJADI GURU KEJURUAN DARI LATAR BELAKANG NON-TEKNIS: PELUANG, TANTANGAN, DAN STRATEGI ADAPTASI

13 min read
PendidikanInspirasiPerspectiveDataStatistic

Sektor pendidikan kejuruan di Indonesia menghadapi paradoks yang fundamental: semakin tinggi permintaan akan guru produktif yang kompeten, namun semakin terbatas pemasok tenaga pendidik dari latar belakang pendidikan keguruan formal.

Menurut data Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru (Kemendikdasmen), pada tahun 2018, Indonesia mengalami kekurangan 93.542 guru produktif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) antara SMK negeri dan swasta.

Sementara itu, setiap tahun rata-rata 70.000 guru pensiun tanpa diimbangi dengan rekrutmen guru baru yang memadai. Kemendesakan ini telah membuka jalan bagi kebijakan inovatif yang memungkinkan profesional dari berbagai latar belakang, termasuk guru normatif (seperti guru agama), untuk bertransisi menjadi guru kejuruan melalui program formalisasi kompetensi.mediaindonesia+1

Fenomena ini menghadirkan suatu dinamika menarik: pada satu sisi, ini adalah peluang emas bagi individu yang ingin mengembangkan karir dalam dunia pendidikan; pada sisi lain, ini merupakan tantangan serius bagi sekolah dan guru itu sendiri dalam mengubah fundamental pengetahuan dan keterampilan. Artikel ini menganalisis secara mendalam aspek-aspek krusial dari transisi karir guru non-kejuruan menjadi guru produktif kejuruan, dengan fokus pada studi konteks Indonesia, khususnya untuk mata pelajaran Informatika pada program TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) dan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak).

Landasan Regulasi dan Kebijakan

Fondasi hukum bagi guru non-latar belakang pendidikan untuk menjadi guru profesional terletak pada tiga instrumen hukum utama. Pertama, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menetapkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik minimum D4/S1 dan sertifikat pendidik. Kedua, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG) secara eksplisit mengizinkan lulusan S1/D4 non-kependidikan untuk mengikuti program PPG Prajabatan. Ketiga, Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 19 Tahun 2024 menyederhanakan mekanisme seleksi administrasi PPG bagi guru tertentu dalam jabatan untuk mempercepat sertifikasi.edukasi.sindonews+2

Program PPG Prajabatan menjadi "jembatan" utama yang memungkinkan transisi formal tersebut. Menurut regulasi, program ini dirancang untuk "mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D4 Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan". Struktur program mencakup pembelajaran teori pedagogik, praktik mengajar terbimbing (microteaching), dan magang di sekolah, dengan durasi berkisar 6-12 bulan bergantung pada model dan institusi penyelenggara.[mondes.co]

Konteks Kekurangan Guru Kejuruan

Skala dan Distribusi Masalah

Data empiris dari Dapodik per 31 Desember 2018 (olahan Ditjen GTK Kemendikbud) mengungkapkan dimensi kritis dari krisis guru produktif. Pada SMK negeri, terdapat 62.105 guru produktif yang ada sedangkan idealnya dibutuhkan 88.091 guru—defisit sebesar 25.986 guru (29,5%). Sementara pada SMK swasta, kesenjangan lebih drastis: hanya ada 54.238 guru sedangkan dibutuhkan 119.513 guru—defisit mencapai 65.275 guru (54,6%).[jurnalpuslitjakdikbud.kemdikbud.go]

Distribusi kekurangan tidak merata per bidang keahlian. Data menunjukkan bahwa bidang-bidang dengan teknologi dinamis tinggi seperti Teknologi Informasi dan Komunikasi mengalami kekurangan paling akut. Kondisi ini diperburuk oleh fenomena geographic maldistribution—konsentrasi guru produktif di daerah urban besar sementara daerah tertinggal dan pelosok kronis kekurangan.mediaindonesia+1

Faktor Penyebab Kekurangan

Kekurangan guru kejuruan disebabkan oleh tiga faktor konvergen. Pertama, rendahnya minat calon guru dari lulusan S1 Pendidikan Kejuruan terhadap profesi guru tetap, karena rata-rata gaji guru awal (PNS/PPPK) lebih rendah dibandingkan posisi di industri sebanding. Kedua, sistem rekrutmen yang sempat dimoratorium (tahun 2000-an) menciptakan backlog kebutuhan yang belum terpenuhi hingga kini. Ketiga, turnover tinggi pada posisi guru honorer dan guru tidak tetap (GTT) akibat ketidakjelasan status karir jangka panjang.vs-dprexternal3.dpr+2

Respon pemerintah terhadap krisis ini meliputi: (1) rekrutmen guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) massal—544.000 guru pada 2021-2023; (2) program Merdeka Belajar yang menargetkan "link and match" antara SMK dan industri; dan (3) pembukaan peluang transisi karir bagi guru normatif dan guru dari profesi lain untuk mendapat sertifikasi guru melalui PPG Dalam Jabatan.[mediaindonesia]

Karakteristik Unik Guru Kejuruan

Guru kejuruan berbeda fundamental dari guru mata pelajaran umum dalam empat dimensi kompetensi yang diartikulasikan dalam standar nasional:[repository.ung.ac]

Dimensi KompetensiGuru UmumGuru Kejuruan (Produktif)
Kompetensi PedagogikPengelolaan pembelajaran teori; diferensiasi kognitif; penilaian pembelajaranPengelolaan pembelajaran teori-praktik simultan; diferensiasi kompetensi hard+soft skills; penilaian kinerja praktik sesuai standar industri
Kompetensi ProfesionalPenguasaan substansi mata pelajaran; literasi disiplin ilmuPenguasaan expertise praktis terkini; mampu menjalankan prosedur industri; update berkelanjutan dengan perubahan teknologi
Kompetensi KepribadianKonsistensi, kedewasaan emosional, integritasSikap profesional, dedikasi pada peningkatan standar kerja, modeling perilaku kerja berkualitas tinggi
Kompetensi SosialKomunikasi interpersonal dengan siswa, kolaborasi antar guruKolaborasi dengan stakeholder industri (DUDI), komunikasi teknis kompleks, networking profesional

Dalam konteks pembelajaran praktik kejuruan, guru produktif harus mampu menjalankan minimal enam fungsi simultan: (1) sebagai pendidik pembentuk karakter, (2) pengajar teori, (3) instruktur praktik/trainer, (4) pembimbing karir, (5) fasilitator industri, dan (6) entrepreneur/pengelola unit produksi. Kombinasi ini menciptakan load kognitif dan emosional yang signifikan lebih tinggi dibanding guru teori murni.[repository.ung.ac]

Tantangan Adaptasi Guru Non-Latar Belakang Pendidikan

1. Kesenjangan Pedagogik Fundamental

Guru yang berasal dari latar belakang non-kependidikan (misalnya guru agama, professional dari industri) biasanya tidak memiliki fondasi teori belajar, psikologi perkembangan, dan metodologi pembelajaran yang komprehensif. Penelitian pada guru adaptasi kurikulum menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman teori pedagogik menyebabkan guru cenderung "(1) menggunakan metode konvensional dan teacher-centered learning yang monoton, (2) kesulitan menerapkan diferensiasi pembelajaran untuk keragaman gaya belajar siswa, dan (3) lemah dalam pengelolaan pembelajaran sosial-emosional siswa".[ejournal.lumbungpare]

Spesifik untuk pembelajaran kejuruan, tantangan pedagogik mencakup: (1) kesulitan mengintegrasikan pembelajaran teori dan praktik secara seamless; (2) ketidakmampuan mendesain project-based learning dan problem-based learning yang autentik sesuai skenario industri; dan (3) kelemahan dalam assessment kompetensi praktik menggunakan rubrik berbasis kompetensi industri.[journal.unj.ac]

2. Gap Kompetensi Profesional-Teknis

Meskipun guru dari background agama mungkin memiliki gelar S1, mereka umumnya tidak memiliki keahlian teknis spesifik yang dibutuhkan untuk mengajar Informatika, TKJ, atau RPL. Mengajar TKJ memerlukan pemahaman mendalam tentang:

  • Arsitektur jaringan komputer dan protokol TCP/IP
  • Konfigurasi equipment Cisco (switch, router, firewall)
  • Troubleshooting dan network security
  • Sertifikasi internasional (CCNA, MTCNA)[informatika.uin-malang.ac]

Mengajar RPL membutuhkan penguasaan:

  • Paradigma pemrograman berorientasi objek
  • Minimal 2-3 bahasa pemrograman (Java, Python, C++)
  • Framework web modern (Laravel, React)
  • Database relasional dan NoSQL
  • Version control (Git) dan CI/CD pipeline
  • Sertifikasi ORACLE atau setara[informatika.uin-malang.ac]

Gap ini tidak bisa diatasi dalam hitungan minggu atau bulan—membutuhkan investasi pembelajaran berkelanjutan minimal 2-3 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa guru yang masih dalam transisi kompetensi teknis, ketika diberikan kurikulum kompleks, sering mengalami "learned helplessness" dan cenderung mengurangi kompleksitas materi atau skip topik yang sulit.[ejournal.lumbungpare]

3. Hambatan Psikologis dan Motivasional

Transisi karir dari guru agama/normatif ke guru kejuruan melibatkan "identity shift" yang substansial. Beberapa guru melaporkan: (1) penurunan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan siswa yang menanyakan prosedur teknis yang sulit dijawab; (2) merasa "impostor" karena tidak memiliki background formal di bidang yang diajarkan; (3) anxiety dalam mengelola lab/lab praktik dengan equipment mahal; dan (4) tekanan sosial dari rekan guru productif yang beranggapan "guru normatif tidak serius".[kompasiana]

Penelitian longitudinal pada guru calon di program PPG menunjukkan bahwa self-efficacy (keyakinan diri) guru yang masih rendah berkorelasi negatif dengan implementasi inovasi pembelajaran (r = -0.58, p < 0.01), dan coaching mentoring efektif meningkatkan self-efficacy sebesar 0.65 unit per satuan mentoring intensity.ojs.uajy+1

4. Hambatan Institusional dan Struktural

Pada level sekolah, beberapa tantangan muncul:

  • Beban kerja ganda: Guru yang baru bertransisi sering diminta menjalankan tugas asal (guru agama) bersamaan dengan tanggung jawab baru (guru kejuruan), menyebabkan overload[ojs.uid.ac]
  • Akses sumber belajar terbatas: Sekolah swasta khususnya sering tidak memiliki lab update, langganan jurnal teknis, atau akses ke platform pembelajaran digital profesional[ejournal.lumbungpare]
  • Dukungan kepemimpinan tidak konsisten: Beberapa kepala sekolah tidak memberikan alokasi waktu khusus untuk guru transitional untuk belajar dan upskilling[ojs.uid.ac]
  • Kultur kompetitif antar guru: Beberapa guru kejuruan "asli" (yang sudah lama) tidak suportif terhadap guru baru, menganggap mereka sebagai "kompetitor" dalam hal akses sumber daya[ojs.uid.ac]

Strategi Adaptasi dan Pengembangan Kompetensi

1. Program PPG: Fondasi Pedagogik Minimum

Program PPG Prajabatan atau PPG Dalam Jabatan adalah "entry requirement" non-negosiable bagi guru non-latar belakang pendidikan. Dalam 6-12 bulan, program ini mengajarkan: (1) teori belajar kontemporar (behaviorist, cognitivist, constructivist), (2) desain kurikulum dan RPP, (3) metode pembelajaran inovatif (PBL, project-based learning), (4) assessment berbasis kompetensi, dan (5) microteaching praktik dengan feedback.ppg.dikdasmen+2

Efektivitas PPG diukur melalui UKPPPG (Uji Kompetensi PPG) dan pembelajaran praktik terbimbing (teaching practice). Lulusan PPG mendapatkan sertifikat pendidik yang merupakan prasyarat untuk melamar posisi guru tetap (PNS/PPPK). Namun, PPG saja tidak cukup untuk guru kejuruan—ia hanya membekali fondasi pedagogik, bukan kompetensi teknis kejuruan.ppg.unikama+1

2. Mentoring Terstruktur: Intervensi Paling Efektif

Berdasarkan penelitian empiris, mentoring (pendampingan) terbukti lebih efektif daripada workshop atau pelatihan konvensional dalam meningkatkan kompetensi guru. Mentoring menghasilkan: (1) peningkatan kepercayaan diri (self-efficacy) sebesar 0.65-0.80 unit dalam 3-6 bulan, (2) peningkatan kompetensi pedagogik 45-60% diukur dari kualitas RPP dan praktik mengajar, dan (3) dampak positif pada hasil belajar siswa (d Cohen = 0.38, moderate effect size).journal.ainarapress+1

Model mentoring yang paling efektif untuk guru kejuruan adalah e-mentoring terstruktur dengan elemen:

  • Durasi: 18-24 bulan, bukan sekadar 3 bulan
  • Mentor: Guru produktif senior yang sudah expert + fasilitasi dari instruktur dari industry
  • Frekuensi: Minimal 1 kali per minggu (90 menit), baik face-to-face maupun digital
  • Fokus: Praktik mengajar real di kelas, troubleshooting masalah spesifik, observasi pembelajaran, dan refleksi bersama[ojs.uajy.ac]
  • Tracking: Penggunaan jurnal pembelajaran, video recording praktik mengajar, dan rubrik penilaian kompetensi teruji[ojs.uajy.ac]

Penelitian pada pembelajaran praktik di SMK menunjukkan bahwa mentoring mentransfer bukan hanya knowledge tetapi juga "tacit knowledge"—cara berpikir, strategi problem-solving, dan mindset profesional yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.[journal.ainarapress]

3. Sertifikasi Profesional dan Upskilling Teknis

Untuk guru TKJ, persyaratan minimal termasuk menyelesaikan sertifikasi industri seperti CCNA (Cisco Certified Network Associate) dan MTCNA. Sertifikasi ini membutuhkan: (1) kursus teori 40-60 jam, (2) lab praktik hands-on 80-120 jam, (3) study group dan exam prep 20-30 jam, dan (4) ujian sertifikasi Cisco yang ketat.course-net+2

Untuk guru RPL, sertifikasi ORACLE (OCA/OCP) dan menguasai framework Laravel modern adalah standar. Investasi waktu dan biaya signifikan—setiap sertifikasi biaya Rp 3-5 juta dan waktu 6-12 bulan per sertifikasi.idn+2

Strategi efektif:

  • Sekolah mengalokasikan dana khusus untuk sertifikasi guru (part of professional development budget)
  • Guru mengikuti bootcamp intensif (4-8 minggu) yang menggabungkan teori dan hands-on lab
  • Pairing dengan praktisi industri aktif yang mentransfer "current practices"
  • Komitmen guru untuk refresh sertifikasi setiap 3 tahun mengikuti perubahan teknologi

4. Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA)

Teaching Factory adalah model pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur industri, dilaksanakan dalam suasana seperti di industri real. Untuk guru transitional, TEFA memberikan beberapa keuntungan:indotech-group+1

  1. Scaffolding praktis: Guru belajar menjalankan prosedur industri bersamaan dengan siswa, bukan harus "tahu lebih dulu"—both become learners together
  2. Authentic assessment: Penilaian kompetensi berbasis output nyata (produk/layanan) yang memenuhi standar industri, bukan simulasi artificial
  3. Kolaborasi dengan DUDI: Guru bekerja sama dengan industry mentor yang memvalidasi prosedur dan standar kerjasmkn7rbi-pekanbaru+1

Penelitian empiris pada SMK yang menerapkan TEFA menunjukkan: (1) peningkatan motivasi siswa 40-50%, (2) peningkatan prestasi praktik siswa rata-rata dari 65 menjadi 82 (standar industri), dan (3) improved guru efficacy dalam mengajar kejuruan karena mendapat dukungan dan validasi dari industry partners.smkn7rbi-pekanbaru+1

5. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Studi quasi-eksperimental pada pembelajaran kejuruan menunjukkan Project-Based Learning (PBL) meningkatkan: (1) hasil belajar (gain score rata-rata 0.39 medium effect size), (2) tingkat kelulusan standar kompetensi dari 38.89% baseline menjadi 91.67% setelah dua siklus PBL, dan (3) kreativitas dan problem-solving siswa signifikan meningkat.neliti+2

Untuk guru non-background, PBL memberikan "path" alternatif untuk mendesain pembelajaran yang tidak sepenuhnya dependent pada expertise teknis mendalam guru. Guru dapat merancang proyek kompleks, memberikan scaffolding yang tepat, dan siswa menjadi "penemunya"—ini mengurangi tekanan pada guru untuk "tahu segalanya".[media.neliti]

Implikasi dan Rekomendasi Kebijakan

Bagi Guru Individual

  1. Kesiapan mental: Memahami bahwa transisi membutuhkan 2-3 tahun minimal, bukan instant transformation. Investasi time-intensive pada tahun pertama adalah normal dan perlu.
  2. Roadmap pembelajaran personal: Guru menyusun plan konkrit: (a) selesaikan PPG, (b) identifikasi gap kompetensi teknis spesifik, (c) target sertifikasi industri dengan timeline, (d) join mentoring formal, (e) join komunitas pembelajaran guru kejuruan (online/offline).
  3. Continuous learning mindset: Kejuruan adalah domain yang dinamis—mengajar RPL atau TKJ berarti commit untuk learn 5-10 jam per minggu sepanjang karir.

Bagi Sekolah dan Kepala Sekolah

  1. Alokasi sumber daya untuk guru transitional:
    • Dana upgrade sertifikasi industri (Rp 3-5M per guru, bisa diupayakan dari komite sekolah atau corporate partnership)
    • Waktu khusus belajar (1-2 jam per minggu tanpa beban mengajar tambahan, minimal 2 tahun pertama)
    • Akses ke lab upgrade dan perangkat terkini
  2. Program mentoring institusional: Kepala sekolah menunjuk guru senior as formal mentor dengan alokasi waktu dan insentif jelas. Mentoring bukan "tanggung jawab tambahan" tapi komitmen sekolah.
  3. Kolaborasi DUDI yang sistematis: Sekolah menjalin MOU dengan perusahaan teknologi lokal (provider Cisco, partner Oracle, tech company lokal) untuk memberikan: (a) akses lab gratis bagi guru, (b) magang guru ke industri minimal 2 minggu/tahun, (c) industry guest lecture, dan (d) validasi standar pembelajaran.
  4. Kultur suportif antar guru: Kepala sekolah fasilitasi diskusi positif—guru kejuruan senior diajak jadi "champion" yang support guru transitional, bukan competitor.

Bagi Pemerintah dan Kemendikdasmen

  1. Memperluas akses PPG dengan spesialisasi kejuruan: Tidak hanya akademik general, PPG untuk guru kejuruan perlu kurikulum khusus yang integrate teaching methodology + technical foundation basics per bidang keahlian.
  2. Subsidi sertifikasi profesional: Pemerintah dapat memberikan voucher atau subsidi sertifikasi industri (CCNA, ORACLE) bagi guru kejuruan yang sedang dalam program pengembangan, dengan komitmen mengajar minimal 5 tahun.
  3. Program magang guru ke industri: Kemendikdasmen mengalokasikan anggaran untuk program "industrial immersion" bagi guru kejuruan—minimal 2-4 minggu per tahun belajar di perusahaan mitra. Ini lebih efficient daripada kirim guru ke luar negeri.
  4. Insentif dan recognition: Sistem penghargaan bagi guru kejuruan non-background yang sukses bertransisi—baik finansial (tunjangan keahlian) maupun non-finansial (recognition, publikasi, conference invitation).
  5. Data monitoring dan support system: Kemendikdasmen melacak trajectory guru transitional—baseline sebelum PPG, progress mentoring, sertifikasi pencapaian, student outcome—untuk mengidentifikasi bottleneck dan intervensi targeted.

Kesimpulan

Transisi dari guru non-kejuruan menjadi guru kejuruan adalah fenomena yang merepresentasikan baik peluang sekaligus tantangan serius bagi sistem pendidikan Indonesia. Kebijakan PPG membuka pintu; namun, kesuksesan implementasi bergantung pada ekosistem dukungan berlapis: mentoring terstruktur, investasi sertifikasi teknis, kolaborasi industri, dan kultur sekolah yang suportif.

Data empiris menunjukkan bahwa guru yang berhasil bertransisi bukan hanya mengejar sertifikat, melainkan mengadopsi "growth mindset" dan commit pada pembelajaran seumur hidup. Mentoring intensif, bukan workshop, adalah intervensi paling efektif. Model TEFA dan PBL memberikan pathways pembelajaran yang mengurangi dependensi guru pada expertise teknis awal.

Investasi pada guru transitional pada jangka panjang lebih cost-effective daripada terus mengandalkan guru honorer atau guru GTT tidak berkualitas. Satu guru kejuruan berkualitas dapat mengajar puluhan siswa selama 20+ tahun. Kalkulasi ROI jelas menguntungkan.

Dengan integrasi strategi multi-level—individual teacher commitment, institutional support, industry partnership, dan enabling policy—Indonesia dapat mengubah krisis guru kejuruan menjadi peluang untuk merevitalisasi pendidikan vokasi dan pada gilirannya meningkatkan relevansi lulusan SMK dengan kebutuhan industri 4.0 dan masa depan kerja yang dinamis.


Referensi

Edukasi Sindonews, 2023. Lulusan Non Kependidikan Mau Jadi Guru, Bisakah? Ini Caranya.[edukasi.sindonews]

UIN Malang, 2019. Dibutuhkan Guru RPL, TKJ, Teknik Komputer.[informatika.uin-malang.ac]

Academia.edu, 2022. Menjadi Guru Lulusan Non Pendidikan.[academia]

ITM Nganjuk, 2025. Apa Itu Prodi Pendidikan Teknologi Informasi? Pengertian dan Prospek Kerja.[pti.itmnganjuk.ac]

YouTube Kemendikbud, 2024. 295 Ribu Guru Belum Memiliki Latar Belakang Pendidikan D4/S1.[youtube]

UID, 2025. Merancang Strategi Pengembangan Karier dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Kompetensi.[ojs.uid.ac]

Mondes.co.id, 2024. Tanpa Ijazah S1 Pendidikan, Gadis Ini Jadi Guru Profesional Berstatus ASN.[mondes.co]

ARIPI International, 2025. Integrasi Bimbingan Karir, Pengembangan Karir, dan Kurikulum Berbasis Industri.[international.aripi.or]

Kompasiana, 2025. Menjadi Guru dari Latar Belakang Non-Pendidikan.[kompasiana]

Lumbung Pare, 2025. Tantangan Adaptasi Guru dalam Implementasi Kurikulum.[ejournal.lumbungpare]

UNG Repository, 2025. Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Sekolah Kejuruan.[repository.ung.ac]

UNMA Ejournal, 2025. Efektivitas Pelatihan Guru Terhadap Implementasi Pendidikan Inklusif.[ejournal.unma.ac]

UNY Journal, 2024. Tantangan dan Kompetensi Guru SMK Abad 21.[jurnal.uny.ac]

UNJ Journal, 2023. Analisis Literatur Tentang Kompetensi Pedagogik Guru Kejuruan.[journal.unj.ac]

Media Indonesia, 2024. Krisis Kekurangan Guru di Indonesia: Fakta, Angka Ideal, dan Upaya Pemerintah.[mediaindonesia]

Uajy Ojs, 2025. Alternatif Peningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru (E-Mentoring).[ojs.uajy.ac]

Kemendikbud JPKP, 2019. Kebutuhan Guru Peminatan Kejuruan dan Pemenuhan Kebutuhannya.[jurnalpuslitjakdikbud.kemdikbud.go]

Unikama, 2025. Seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Calon Guru Tahun 2025.[ppg.unikama.ac]

Kemendikdasmen, 2025. Pendaftaran Program Upskilling Reskilling Guru SMK Tahun 2025.[bbppmpvbispar.kemendikdasmen.go]

DPR RI, 2020. Problematika Seleksi dan Rekrutmen Guru Pemerintah di Indonesia.[vs-dprexternal3.dpr.go]

Tribun News, 2018. Pemerintah Akui Kekurangan Guru Produktif di SMK.[tribunnews]

PPG Dikdasmen, 2025. PPG bagi Guru Tertentu Tahun 2025.[ppg.dikdasmen.go]

Course-Net, 2025. Kursus CCNA dan Sertifikasi Cisco di Indonesia.[course-net]

IDN, 2025. Training CISCO CCNA Enterprise Jakarta.[idn]

Indotech Group, 2023. Mengenal Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA).[indotech-group.co]

Neliti Media, 2024. Efektivitas Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning).[media.neliti]

Ainara Press, 2025. Pengaruh Mentoring Bisnis terhadap Kompetensi Siswa Pengelolaan Teaching Factory.[journal.ainarapress]

SMKN 7 Pekanbaru, 2023. Teaching Factory Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran Praktik Kejuruan.[smkn7rbi-pekanbaru.sch]

UM Journal, 2022. Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Keaktifan dan Kemampuan Mahasiswa.[journal2.um.ac]

JER Online, 2024. Evaluasi Efektivitas Metode Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Mengembangkan Kreativitas Siswa.[jer.or]


"Statistik tanpa cerita sia-sia. Sistem tanpa data buta."

Herman Jaro - Data Enthusiast & Full Stack Developer. Hubungi saya! herman@rumahku.biz.id

Related Articles