Belajar Sains di Sekolah, Pentingkah?
Banyak orang pernah bertanya hal yang sama: “Ngapain sih sekolah ngajarin hal-hal kayak integral, diferensial, atau energi kinetik? Di pasar juga nggak ada yang nanya kayak gitu.” Pertanyaan ini wajar, dan sebenarnya cukup penting.
Kita mulai dari sini: tidak semua yang berguna itu kelihatan gunanya sekarang juga. Ada hal-hal yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, tapi diam-diam membentuk cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan melihat dunia.
1. Ilmu abstrak itu seperti latihan otak
Bayangkan gym. Di gym, orang mengangkat besi yang dalam hidup nyata tidak akan pernah mereka angkat. Tujuannya bukan “biar besinya kepakai”, tapi supaya ototnya kuat.
Matematika dan sains yang terlihat rumit punya fungsi mirip:
- Saat mengerjakan soal, otak belajar:
- menyusun langkah,
- sabar mengikuti proses,
- teliti dengan angka dan simbol.
- Saat belajar konsep sains, otak dilatih:
- mencari sebab-akibat,
- melihat pola,
- tidak mudah percaya sesuatu tanpa alasan.
Jadi, bukan soal “akan pakai rumus ini di mana?”, tapi “cara berpikir apa yang terbentuk dari proses belajar ini?”.
2. Hidup sehari-hari sebenarnya penuh konsep “diam-diam ilmiah”
Di pasar mungkin tidak ada yang bilang “median” atau “statistik”, tapi:
- Pedagang tahu harga “pasaran”.
- Pembeli tahu mana harga yang “kemahalan”.
- Orang bisa menebak kapan harga kira-kira naik atau turun.
Itu semua bentuk berpikir pakai pola, cuma tanpa istilah ilmiah.
Sekolah lalu memberi nama, rumus, dan cara hitung yang lebih rapi. Awalnya terasa kaku, tapi dengan cara itu kita bisa:
- membaca data di berita dengan lebih kritis,
- memahami grafik, persentase, dan perbandingan,
- tidak gampang tertipu angka-angka yang dimanipulasi.
3. Masalahnya sering di cara mengajar, bukan di ilmunya
Jujur saja: banyak orang benci pelajaran tertentu bukan karena ilmunya jelek, tapi karena cara mengajarnya membuat ilmu itu terasa jauh dan menakutkan.
Yang sering terjadi:
- Fokus ke hafalan rumus, bukan pemahaman.
- Contoh terlalu “soal buku”, bukan dari kehidupan nyata.
- Murid dituntut dapat nilai bagus, bukan diajak mengerti pelan-pelan.
Akibatnya, banyak yang tumbuh dewasa dengan kesan: “Ah, itu cuma teori.” Padahal, di balik “teori” itu ada cara berpikir yang sangat berguna untuk hidup.
4. Kenapa ada orang yang meremehkan ilmu?
Kadang, ada orang yang merendahkan ilmu dengan alasan: “Yang penting bisa cari uang”, atau “Yang penting baik, nggak perlu pinter-pinter amat.”
Masalahnya, kalimat-kalimat seperti itu bisa dipakai untuk:
- menutupi rasa minder karena pernah gagal di sekolah,
- menghindari usaha berpikir lebih dalam,
- membuat seolah-olah malas belajar itu hal yang wajar.
Padahal, bukan soal semua orang harus jago matematika atau fisika. Bukan.
Yang penting adalah:
- mau terus belajar hal baru,
- mau berpikir sedikit lebih jauh sebelum menilai sesuatu,
- tidak bangga dengan ketidaktahuan.
5. Jadi, masih perlu nggak ilmu yang “nggak kepake di pasar”?
Perlu—tapi dengan catatan. Ilmu yang abstrak tetap penting karena:
- menguatkan cara berpikir,
- membantu kita menghadapi masalah yang belum tentu muncul sekarang, tapi mungkin muncul 5–10 tahun lagi,
- mempersiapkan kita hidup di dunia yang makin penuh teknologi dan informasi.
Yang perlu dibenahi adalah cara penyampaian dan contohnya, supaya murid tidak hanya hafal, tapi juga merasa: “Oh, jadi begini ya gunanya cara berpikir seperti ini.”
Pada akhirnya, sekolah bukan cuma tempat cari nilai, tapi tempat membentuk cara kita melihat dan memahami dunia. Dan untuk itu, kadang memang perlu belajar hal-hal yang tidak langsung dipakai di pasar—tapi sangat terasa gunanya dalam cara kita menjalani hidup.
"Tumpukan Spreadsheet bisa jadi dashboard — tinggal satu sistem."