Apakah Website Dengan SEO Masih Dapat Bersaing di Era Konten Video dan AI?
Pertanyaan tentang relevansi website dan SEO di era dominasi konten video serta artificial intelligence adalah pertanyaan paling strategis yang dihadapi oleh setiap bisnis digital di 2025-2026. Berdasarkan analisis data komprehensif dari berbagai sumber industri terkemuka, jawabannya adalah: Ya, website dengan SEO tidak hanya masih dapat bersaing, tetapi menjadi lebih strategis daripada sebelumnya—tetapi dengan syarat: bisnis harus mengevolusi pendekatan mereka.
Ini bukan cerita tentang SEO yang "masih hidup". Ini tentang transformasi fundamental dalam cara visibility, traffic, dan konversi dihasilkan dalam ekosistem pencarian yang sekarang didominasi AI. Bisnis yang memahami pergeseran ini dan beradaptasi akan menguasai market. Yang tidak akan tertinggal dalam noise.
Bagian 1: Krisis Nyata—Zero-Click Searches dan AI Overviews
Statistik Mengkhawatirkan
Jangan abaikan data ini: 60-65% dari semua pencarian Google sekarang berakhir tanpa pengunjung ke website sama sekali. Pengguna mendapatkan jawaban langsung dari rangkuman AI di halaman hasil pencarian tanpa perlu mengklik link apa pun.
Pertumbuhan AI Overviews Google mencengangkan. Di Januari 2025, AI Overviews muncul untuk 6.49% dari semua query. Tiga bulan kemudian, pada Maret 2025, angka itu melonjak menjadi 13.14%—pertumbuhan 102% dalam waktu singkat. Proyeksi menunjukkan AI akan memproses 40% dari semua pencarian pada 2026.
Dampak langsung terhadap click-through rate (CTR) sangat brutal. Ketika AI Overview muncul untuk suatu query, CTR turun 47% (dari 15% menjadi 8%). HubSpot, perusahaan yang berkomitmen pada inbound marketing berbasis SEO, melaporkan penurunan traffic organik sebesar 70-80% antara 2024 dan 2025.
Evolution of Search Traffic Sources: From Organic Dominance to AI-Hybrid Model (2024-2026)
SEO Return on Investment by Industry Vertical (2025-2026)
Paradoksnya menggelisahkan: Google memproses 9.1-13.6 miliar pencarian per hari—lebih banyak daripada tahun sebelumnya—namun lebih sedikit pencarian yang menghasilkan kunjungan ke website. Ini bukan tentang berkurangnya permintaan informasi. Ini tentang Google menangkap jawaban sebelum pengguna meninggalkan platform.
Siapa yang Paling Terpengaruh?
Query informatif paling terpukul. Dari 88.1% query yang memicu AI Overviews, mayoritas adalah pertanyaan "informatif" (how-to, what is, explanatory). Ini berarti blog, tutorial, dan konten edukatif—tradisional pilar content marketing—sekarang bersaing melawan rangkuman AI yang ditampilkan di halaman pertama pencarian.
Website resep, blogger kesehatan independen, dan situs review afiliasi melaporkan kehilangan traffic hingga 65% untuk halaman yang sebelumnya ranking di posisi satu. Bisnis yang mengandalkan AdSense atau model monetisasi berbasis volume traffic melihat revenue collapse secara dramatis.
Bagian 2: Mengapa Laporan Kematian SEO Sangat Dibesar-besarkan
Data Kontra-Narasi: Pencarian Organik Masih Mendominasi
Di tengah alarm, ada fakta yang terabaikan oleh banyak marketer panicked: Pencarian organik masih mendorong 53% dari semua traffic website. Ini lebih besar daripada paid search, social media, dan direct traffic digabungkan.
Pertimbangkan konteks: Meskipun AI Overviews muncul untuk 13% query, 87% query masih tidak memiliki AI answer. Untuk query itu, ranking organik klasik masih sangat penting. Dan di sini adalah detail yang mengubah permainan: CTR untuk posisi ranking #1 sekarang adalah 39.8%, naik dari 39.6%. Artinya, untuk query yang tidak dipengaruhi AI Overview, Google meningkatkan relevansi ranking atas, yang menghasilkan CTR yang bahkan lebih tinggi.
Perbedaan antara "traffic turun" dan "traffic adalah nol" adalah kritial. Banyak bisnis yang "kehilangan" 40-50% organic traffic masih menerima ratusan atau ribuan pengunjung berkualitas tinggi setiap hari. Quality bukan quantity.
ROI SEO Tetap Luar Biasa
SEO Return on Investment by Industry Vertical (2025-2026)
SEO Performance Metrics: CTR and Conversion Advantage Despite AI Overviews
ROI dari investasi SEO masih sangat mengesankan. Untuk bisnis B2B SaaS, return rata-rata adalah 702% dengan break-even point 7 bulan. Layanan keuangan melihat ROI 1,031%, sementara real estate mendominasi dengan 1,389% ROI. Untuk e-commerce dengan horizon waktu 12 bulan, ROI rata-rata mencapai 2.6x.
Lebih penting lagi: Leads yang datang dari pencarian organik convert pada rate 14.6%, dibandingkan dengan hanya 1.7% untuk outbound leads—sebuah keunggulan 8.5x. Ini bukan kebetulan. Orang yang secara aktif mencari solusi Anda di Google sudah memiliki intent yang tinggi. Mereka siap membeli. Mereka bukan cold audience.
Bagian 3: Video Konten—Pelengkap, Bukan Pengganti
Dominasi Video adalah Fakta
Video memang mendominasi. Volume traffic video mencapai 82% dari semua traffic internet. YouTube memproses 3 miliar pencarian per bulan—lebih banyak daripada Bing, Yahoo, dan DuckDuckGo digabungkan. 69% konsumen lebih suka menonton video pendek untuk mempelajari produk daripada membaca teks.
Namun, ini bukan zero-sum game. AI systems sekarang indexing video transcript untuk pencarian, dan Google menampilkan hasil video di 26% dari semua query. Halaman yang mengintegrasikan video ranking 53% lebih tinggi untuk keyword yang sama dibandingkan text-only pages.
Video sebagai Leverage untuk SEO, Bukan Pesaing
Strategi terbaik adalah video sebagai multiplier konten, bukan replacement. Sebuah blog post 2,000 kata berkinerja terbatas. Tapi blog post yang sama dengan embedded video 10 menit, transcript lengkap, dan distribusi di YouTube menciptakan multiple discovery surfaces:
- Video muncul di YouTube search
- Video muncul di Google Video results
- Transcript membantu Google memahami halaman blog dengan lebih baik
- Video meningkatkan dwell time dan engagement signals
- Video dapat di-cite oleh AI systems sebagai sumber
Data menunjukkan bahwa content yang muncul dalam text, video, dan visual format memiliki probabilitas lebih tinggi untuk di-cite oleh AI systems. Satu idea, banyak format, banyak touchpoint untuk discovery.
Bagian 4: AI dan Multimodal Search—Paradigma Baru
Dari Keyword Rankings Menuju Entity Recognition dan Citations
SEO tradisional berfokus pada keyword rankings. Anda menargetkan "jasa SEO Jakarta" dan berusaha untuk rank di posisi 1. Strategi baru—disebut Generative Engine Optimization (GEO)—berbeda secara fundamental.
Alih-alih optimasi untuk "keyword jasa SEO Jakarta", GEO mengoptimalkan untuk entitas dan context. Contoh: bukan hanya "kami adalah agensi SEO di Jakarta", tetapi: "ClickForest adalah agensi marketing yang didorong AI di Bonheiden yang membantu SME tumbuh melalui performance marketing, optimasi Shopify, dan lead generation. Didirikan oleh Frederiek Pascal, mereka terutama melayani entrepreneur Flemish."
AI systems seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity tidak mencari keywords. Mereka memahami makna melalui entity extraction: kombinasi name, location, specialization, founder, track record, dan contextual signals. Sebagian besar query informatif yang memicu AI Overview sekarang dioptimalkan lebih baik melalui topic targeting daripada keyword targeting.
E-E-A-T: Expertise, Experience, Authority, Trustworthiness
Ini bukanlah konsep baru, tetapi relevansinya dalam era AI telah meningkat secara eksponensial. Google secara terbuka menyatakan bahwa E-E-A-T dievaluasi untuk setiap query yang dicari. AI systems melakukan hal yang sama.
Halaman dengan sinyal E-E-A-T yang kuat memiliki peluang 30% lebih tinggi untuk ranking di top 3. Lebih penting, sumber dengan credibility signals yang terverifikasi adalah yang di-cite oleh AI systems dalam generated answers.
Cara membangun E-E-A-T:
- Experience: Demonstrasikan hands-on experience melalui case studies, original research, dan personal insights, bukan hanya repackaged information
- Expertise: Tampilkan kredensial author, sertifikasi, dan keahlian domain. AI systems dapat membaca structured author bios
- Authority: Earn backlinks dari domain otoritatif. Topical authority dibangun melalui content coverage yang komprehensif dalam niche yang terdefinisi jelas
- Trustworthiness: Transparansi is paramount—contact information jelas, who-you-are pages terisi lengkap, fact-checking visible, correction policies explicit
Studi kasus nyata: Website konten keuangan yang mengimplementasikan E-E-A-T strategy melihat peningkatan 67% dalam organic traffic, perbaikan 43% dalam ranking untuk YMYL keywords, dan conversion rate naik 28%.
Bagian 5: Multimodal Content Strategy—Multiplier Efisiensi
One Core Idea, Many Formats
Paradigma content marketing sedang berubah dari "produce more" menjadi "repurpose smarter". Alih-alih membuat 52 blog posts per tahun, brand terbaik membuat 12-15 pillar pieces dan mengubahnya menjadi puluhan format.
Contoh praktis:
- Webinar original (30 menit, 100+ peserta)
- → Extract menjadi blog post (2,500 kata dengan insights mendalam)
- → Transform menjadi video tutorial series (4-5 video pendek di YouTube)
- → Create podcast clips dan audio content
- → Design infographics dari data/framework kunci
- → Build social media carousel untuk distribusi di LinkedIn, Instagram
- → Compile email sequence untuk nurturing
Hasilnya: satu idea utama menciptakan 8-10 discovery surface. Setiap format menjangkau audience yang berbeda, di platform yang berbeda. Yang lebih penting, halaman yang muncul dalam text, video, dan visual format memiliki probabilitas lebih tinggi di-cite dalam AI-generated answers.
Multimodal AI dan Impact pada Ranking
Google dan AI systems seperti Gemini sekarang menganalisis konten secara multimodal—mereka memproses text, images, video, audio, dan metadata secara simultan untuk memahami halaman. Halaman yang hanya memiliki text dievaluasi sebagai "incomplete" atau "thin" dibandingkan halaman yang mengintegrasikan visual, video, dan structured data.
Video dengan captions dan transcripts adalah game-changer. 85% pengguna menonton video social media tanpa suara—captions adalah essential, bukan luxury. Transcripts memungkinkan AI systems untuk extract meaning dari video dengan presisi. Video ranking pages 53% lebih tinggi daripada text-only untuk keyword yang sama.
Bagian 6: Content Systems vs Campaign Approach
Paradigm Shift: Dari Campaign Mentality ke Operating System
Di era lalu, brand membuat campaign: "3-bulan content push untuk awareness". Hari ini, bisnis terbaik membangun content systems—platform yang dioptimalkan untuk decision clarity, repeat utility, dan trust accumulation.
Content system bukan newsletter mingguan atau blog burst. Ini adalah environment yang terstruktur yang memetakan content ke 5 consumer states:
- Discovery: Membantu konsumen memahami problem space tanpa selling
- Consideration: Menawarkan comparisons, frameworks, explanations
- Validation: Memberikan evidence, expertise, reassurance sebelum keputusan
- Usage: Support post-purchase learning dan optimization
- Advocacy: Enable sharing, participation, community
Content system yang baik adalah repeatable, utility-driven, dan designed to be used, not consumed. User kembali karena mereka menemukan value yang actionable, framework yang dapat diterapkan, tools yang helpful.
Mengapa Ini Penting di Era AI
AI systems lebih mudah menginterpretasi dan cite content dari platform yang terstruktur dengan jelas daripada campaign-style articles yang scattered. Brand yang memiliki named frameworks, clear navigation, consistent structure, dan repeat utility patterns memberikan sinyal kepada AI bahwa mereka adalah trusted, authoritative source.
Platform brand seperti HubSpot's knowledge base, Salesforce's resource library, atau Canva's design guides rank dan di-cite lebih sering dalam AI answers daripada blog post individual karena struktur dan clarity-nya.
Bagian 7: Tantangan Spesifik dan Solusi Adaptif
Challenge #1: Zero-Click Searches dan Citation-Based Visibility
Tantangan: 60% pencarian tidak menghasilkan klik ke website. AI menjawab pertanyaan di SERP langsung.
Solusi (Generative Engine Optimization):
- Targetkan queries di mana bisnis dapat di-cite sebagai source
- Optimalkan untuk "knowledge" queries (definisi, frameworks) di mana AI membutuhkan authoritative source
- Buatkan FAQ sections yang mirror natural language queries AI systems gunakan
- Implementasikan schema markup (VideoObject, FAQPage, BreadcrumbList) agar AI lebih mudah extract informasi
- Fokus pada topic clusters, bukan scattered keyword targeting
- Prioritaskan quality dan original insight di atas volume content
SEO Performance Metrics: CTR and Conversion Advantage Despite AI Overviews
Hasil yang diharapkan: Bahkan jika 60% queries zero-click, bisnis masih menerima citations dalam AI answers ("Menurut ClickForest, strategi SEO multimodal meliputi..."), yang menghasilkan "AI referral traffic"—user yang membaca AI answer, terkesan dengan quote Anda, dan klik link untuk mempelajari lebih lanjut.
Challenge #2: Kompetisi Dengan Entitas Besar (Big Brand Dominance)
Tantangan: HubSpot, Mailchimp, Shopify—brand besar dengan domain authority tinggi—mendominasi AI citations untuk queries umum.
Solusi (Niche Authority):
- Narrow down ke sub-niche yang sangat spesifik. Alih-alih "SEO", targetkan "SEO untuk e-commerce dalam fashion industry" atau "SEO strategy untuk SaaS dengan product-led growth"
- Build topical authority yang mendalam dalam niche itu. Tidak ada competitor lain yang memiliki 50+ artikel berkualitas tinggi tentang kombinasi niche specific Anda
- Leverage local SEO jika applicable. Bisnis lokal masih memiliki keuntungan besar—optimasikan Google Business Profile, dapatkan reviews lokal, target "near me" keywords
- Create original research atau unique data yang tidak ada di tempat lain. AI systems lebih suka cite original sources daripada synthesized content
Setiap pasar memiliki gap. Big brands tidak bisa mengisi semua. Mereka fokus pada "bagaimana", "apa itu", queries umum. Mereka jarang memiliki deep expertise dalam micro-niche kombinasi spesifik.
Challenge #3: Video Content Quality dan Production Cost
Tantangan: Video berkualitas tinggi membutuhkan resources—equipment, editing, talent.
Solusi (Systematic Repurposing):
- Mulai dengan content yang sudah ada (blog posts, webinars, podcasts). Extract dan transform menjadi video
- Use AI tools untuk speed production: auto-transcription, auto-captioning, auto-summarization. 80% pekerjaan technical bisa diautomasi. 20% tetap membutuhkan human judgment untuk quality
- Fokus pada format yang high-ROI: Explainer videos, tutorial, customer testimonials, founder/expert talking head. Tidak perlu production value Netflix—authenticity seringkali lebih valuable untuk trust building
- YouTube adalah second search engine, bukan luxury channel. Investasi dalam YouTube SEO—optimization titles, descriptions, tags, playlists, transcripts—seringkali deliver ROI lebih tinggi daripada paid social
Bagian 8: Strategi Kompetitif untuk Bisnis Kecil dan Medium
Local SEO Masih King untuk SMME
Untuk bisnis lokal (toko, jasa, HVAC, dental, dll), SEO tetap sangat efektif:
- Optimize Google Business Profile dengan updated info, photos, posts, review management
- Target "near me" keywords dan location-based long-tail variations
- Build local backlinks dari chamber of commerce, community directories, local news
- Encourage dan respond to reviews across Google, Facebook, Yelp
Bisnis lokal yang serius dengan SEO melihat dominansi di map pack results dan dapat mengalahkan competitor besar di search results lokal mereka.
High-Intent Keywords Still Drive Revenue
Sementara informational queries (how-to, what is) terpukul oleh AI Overviews, commercial dan transactional keywords masih menghasilkan clicks berkualitas tinggi. Query seperti "best CRM software for small business", "pricing for enterprise software", "review of [product]" masih driving traffic dan leads.
Strategi bisnis yang smart fokus pada keyword mapping:
- Informational (top-of-funnel): Optimasi untuk citations dalam AI answers, bukan just ranking. Target dengan content systems dan topic clusters
- Commercial/Transactional (mid-funnel, bottom-funnel): Traditional SEO strategy. Rank organically, capture clicks, convert leads
Long-Tail Keywords Masih Underutilized
70% dari semua search traffic berasal dari long-tail keywords. Small businesses yang fokus pada hyper-specific, long-tail variations di niche mereka dapat outrank broader, more competitive terms dari big brands. "Best free project management software for agency teams in Jakarta" adalah easier target daripada "project management software", dan conversion rate akan lebih tinggi karena user intent sangat specific.
Bagian 9: Practical Roadmap untuk 2026
GEO Implementation Timeline (4-6 Bulan)
Month 1-2: Foundation & Audit
- Audit AI visibility saat ini: Search query key Anda di ChatGPT, Perplexity, Google AI Overview. Apakah Anda di-cite? Apakah competitor Anda di-cite?
- Implement structured data (Schema.org markup) untuk VideoObject, Organization, BreadcrumbList, FAQPage
- Rewrite top 10 pages dalam conversational style—AI understand natural language lebih baik daripada SEO-style keyword-dense writing
- Create comprehensive FAQ sections yang mirror conversational queries
Month 2-3: Content Restructuring
- Map content ke consumer journey: discovery → consideration → validation → usage → advocacy
- Build topic clusters: 1 pillar page (definitive guide 5,000+ words) + 8-12 supporting cluster pages yang deeply explore subtopics
- Add multimodal elements: video, infographics, data visualization ke setiap major page
- Implement video sitemaps dan captions untuk setiap video
Month 4-6: Scale & Monitoring
- Publish content secara konsisten dengan strategic distribution: YouTube, LinkedIn, social media
- Monitor AI visibility changes—track citations dalam Perplexity, ChatGPT, Google Gemini untuk key queries
- Measure new metrics: citation frequency dalam AI answers, brand mention sentiment, AI referral traffic (via UTM parameters dalam AI responses)
- Iterate berdasarkan performance data
Content Team Workflow: AI + Human
The 80/20 Rule:
- 80% automated/AI-assisted: Drafting, outlining, summarization, format variation, data analysis
- 20% human expertise: Original research, unique opinions, E-E-A-T proof, emotional context, brand voice
Tool stack: SEMrush/Ahrefs untuk keyword research → ChatGPT/Claude untuk drafting → Human editor untuk expertise layer → Video tool (Opus, HubSpot, Vidyard) untuk repurposing → YouTube/LinkedIn untuk distribution.
Bagian 10: Kesimpulan—Website SEO dalam Era AI Bukan Dead, Itu Evolved
The Unequivocal Truth
Website dengan SEO strategy yang diperbaharui masih merupakan asset bisnis paling valuable di 2025-2026. Tetapi "masih" membutuhkan evolusi:
- Organic traffic masih 53% dari semua website traffic—lebih besar daripada paid, social, dan direct digabungkan
- SEO ROI masih exceptional: 702% untuk B2B SaaS, 1,031% untuk financial services, 1,389% untuk real estate
- Organic leads convert 8.5x better daripada outbound leads—quality ini tidak dapat direplikasi oleh channel lain
- Zero-click dan AI Overviews tidak membunuh SEO—mereka mengubahnya. Tujuan baru adalah citations dalam AI answers, bukan hanya ranking positions
- Video bukan replacement untuk website—itu multiplier. Multimodal content yang mengintegrasikan text, video, visual, dan structured data rank lebih tinggi dan di-cite lebih sering oleh AI
- Content systems yang dirancang untuk repeat utility dan decision clarity outperform campaigns yang designed untuk satu-kali traffic spike
- E-E-A-T (Expertise, Experience, Authority, Trustworthiness) lebih penting daripada sebelumnya. AI systems verifikasi credibility signals sebelum citing sumber
- Niche businesses dapat mengalahkan big brands melalui deep topical authority dan hypergspecific keywords
What Kills SEO in 2026
- Generic, low-effort, mass-produced content tanpa original insight
- Websites tanpa clear structure, entity signals, atau E-E-A-T proof
- Content strategy yang scattered—tidak ada clear topical authority
- Ignoring multimodal requirements (no video, no visuals, no captions, no transcripts)
- Treating SEO sebagai one-time optimization, bukan ongoing system
What Wins in 2026
- Structured content systems yang guide users melalui consumer journey
- Multimodal content that ranks dalam multiple discovery surfaces
- Demonstrated E-E-A-T dengan verifiable credentials dan original research
- Niche authority dengan deep, comprehensive coverage
- High-intent, long-tail keyword strategy combined dengan AI citation optimization
- Consistent, user-centered value creation over algorithmic manipulation
Kesimpulan Akhir
"Apakah website masih dapat bersaing di era video dan AI?"
Jawabannya adalah: Ya, tetapi hanya jika Anda bersedia beradaptasi.
Bisnis yang masih berpegang pada SEO strategy 2015 (keyword stuffing, volume content, manipulation) akan kehilangan relevance. Bisnis yang memahami bahwa SEO telah evolved menjadi multimodal visibility system—combining traditional ranking optimization dengan AI citation strategy, multimodal content, dan demonstrated E-E-A-T—akan terus mendominasi digital landscape.
Website bukan dead. SEO bukan dead. Tetapi simplistic interpretasi dari keduanya definitely dead. Future winners adalah bisnis yang membangun content systems yang berguna, trusted, dan tersebar di multiple discovery surfaces.
Waktu untuk bergerak adalah sekarang. Kompetitor Anda sudah bergerak.
Referensi Data
Zero-click searches, , | AI Overview growth | McKinsey prediction 40% by 2026 | CTR reduction 47% | HubSpot traffic decline | Informational queries 88.1% | Blog traffic loss | Organic traffic 53%, , | Position #1 CTR | B2B SaaS ROI 702%, | Real estate/financial ROI | E-commerce 12-month ROI | Conversion rate advantage, | Video 82% of traffic | YouTube 3B searches | Video preference 69% | Video in 26% of searches | Video ranking 53% higher | Multimodal citation advantage | Entity optimization example | Topic vs keyword targeting | E-E-A-T 30% ranking advantage | AI citations | Financial content case study | Multimodal citation probability | Multimodal analysis | Video captions 85% | Video ranking advantage | Content systems utility | Commercial keywords performance | Long-tail keyword traffic 70% | 80/20 AI/human rule
"Statistik tanpa cerita sia-sia. Sistem tanpa data buta."