Herman Jaro

v3.0.42
← Back to Chronicle

Antara Logika, Data, dan Tuhan: Catatan Tentang Hidup

2 min read
StatisticDataLife BalancePerspectiveFaith

Sebagai seorang yang hidup di era data, kita suka banget berpikir: “kalau nggak bisa dibuktikan, berarti nggak nyata.” Tapi hidup, sayangnya, nggak sesimpel algoritma linear regression.

Saya sering ketemu orang yang bilang, “Saya itu logis, makanya saya nggak percaya hal-hal spiritual.” Sekilas masuk akal. Tapi kalau dipikir lagi, pernyataan itu mirip model machine learning yang belum di-training pakai data yang cukup. Alias: overconfident, under-informed.

Lucunya, sebagian orang yang “mengaku agnostik karena realistis” justru masih menunggu THR dan berkata “Demi Tuhan!” waktu kepepet. Ironi ini memang lucu—dan manusiawi. Logika kadang kalah sama insting, sama seperti algoritma kalah menghadapi outlier.


Logika ≠ Tidak Beriman

Dalam dunia data science, logika itu penting, tapi context jauh lebih penting. Data tanpa konteks cuma angka. Begitu juga rasionalitas tanpa spiritualitas—cuma “dingin” dan dangkal.

Sebuah studi oleh Harvard Human Flourishing Program (2021) menunjukkan bahwa orang yang aktif dalam aktivitas spiritual memiliki tingkat kebahagiaan 17% lebih tinggi dan stres 23% lebih rendah dibanding mereka yang tidak. Statistik ini membuktikan bahwa beriman bukan berarti anti-logika. Justru, iman bisa menjadi salah satu “fitur penting” dalam model kebahagiaan manusia.


Kritis ≠ Sinis

Menjadi kritis itu bukan berarti menolak semuanya. Seorang data scientist tak akan menolak hipotesis sebelum diuji. Kalau semua ide langsung ditolak di awal, modelnya tidak akan belajar—training failed.

Begitu pula dengan hidup: terlalu sinis terhadap hal-hal spiritual cuma bentuk bias—confirmation bias yang dengan manis kita bungkus sebagai “pemikiran logis.”


Data vs Hati

Hal paling logis dalam hidup kadang justru membuka ruang bagi yang tak bisa dijelaskan oleh data: cinta, ampunan, keyakinan. Itu semua termasuk unstructured data—tidak bisa diukur, tapi berdampak besar terhadap keseimbangan hidup.

Mark Manson dalam “The Subtle Art of Not Giving a Fck”* menulis bahwa penderitaan manusia sering datang bukan karena kurangnya logika, tapi kurangnya makna. Dan makna, sayangnya, jarang muncul dari rumus matematika.


Kapan Terakhir Kita “Debug” Diri Sendiri?

Coba luangkan waktu hari ini untuk debugging diri sendiri seperti kita memeriksa kode atau dataset:

  1. Kapan terakhir kali kamu mempertanyakan keyakinanmu—bukan untuk menolak, tapi untuk memahami?
  2. Apakah kamu terlalu sibuk mencari pembuktian sampai lupa menikmati misteri?
  3. Jika hidupmu sebuah dataset, apakah kamu lebih sering fokus pada error atau maknanya?

Ambil jurnal, tulis jawabannya. Nggak perlu logis, tapi jujur. Karena kadang, insight terbaik muncul bukan dari data—melainkan dari keheningan.


"Backend kuat, frontend hidup — itulah harmoni digital."

Herman Jaro - Data Enthusiast & Full Stack Developer. Hubungi saya! herman@rumahku.biz.id

Related Articles