Herman Jaro

v3.0.42
← Back to Chronicle

Timeline, Pengadilan, dan Kamu yang Cuma Mau “Lihat Berita”

3 min read
PerspectiveLife BalanceDataStatisticInspirasi

Kamu buka HP niatnya cari informasi, tapi tiba-tiba tersedot ke “Breaking News”: si A diduga begini, si B katanya begitu, lengkap dengan thumbnail wajah kaget level habis lihat tagihan listrik. Ini bukan berita—ini sinetron tanpa jeda iklan, karena iklannya sudah menyatu dengan hidupmu: perhatianmu sendiri.

Masalahnya, gosip berkedok berita itu punya desain sistem yang rapi: begitu kamu klik sekali, algoritma menganggap kamu baru saja mengucap janji setia. Besoknya muncul lagi. Lusa muncul versi “ANALISIS AHLI” (ahli yang dimaksud: tetangga internet). Minggu depannya kamu hafal silsilah keluarga orang yang bahkan tidak akan mengenalmu kalau papasan di minimarket.

Padahal tujuan kita harusnya sederhana: menjadikan “berita” sebagai cermin, bukan sebagai panggung lempar batu.

Ini “Kontrol Sosial” atau “Kontrol Dopamin”?

Ada argumen yang terdengar bijak: “Gosip itu kontrol sosial, biar orang hati-hati.” Oke, bisa jadi. Tapi kalau bentuk kontrol sosialnya adalah mempermalukan orang rame-rame sambil makan keripik, itu sudah mirip pengadilan keliling versi Wi‑Fi.

Dan ada efek samping yang halus: kamu jadi overthinking. Bukan overthinking yang produktif (“aku harus memperbaiki diri”), tapi overthinking tipe “kalau aku salah ketik satu kata, besok masuk channel ‘TERBONGKAR!’”. Fenomena doomscrolling (kebiasaan terus menggulir konten negatif) memang dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan pada berbagai studi.pmc.ncbi.nlm.nih+1

Sementara itu, sebagian dari kita diam-diam punya wishlist yang agak gelap: “Semoga orang yang aku nggak suka cepat viral aibnya.” Itu bukan kontrol sosial. Itu kontrol emosi yang gagal update—legacy system bernama dendam, tapi pakai UI modern.

Signal vs Noise: Cara Mengubah Gosip Jadi Refleksi (Tanpa Jadi Sok Suci)

Ini bagian pentingnya: kita sering salah baca signal. Noise-nya adalah detail aib: siapa chat apa, jam berapa, pakai emot apa. Signal-nya harusnya: “Oh, manusia bisa jatuh. Termasuk aku.”

Ada kisah sederhana yang menampar halus. Seseorang menangis karena dia baru saja diajak berbuat maksiat dan ketakutan. Sahabatnya ikut menangis, bukan karena “wah seru nih dramanya,” tapi karena takut: “Kalau aku diuji hal yang sama, aku belum tentu kuat menolak.” Itu respon yang sehat: bukan menonton orang lain jatuh, tapi memperkuat rem di dalam diri.

Kalau timeline adalah jalan raya, gosip itu seperti truk besar yang melaju pelan di depanmu: bikin macet, berisik, dan kamu ikut-ikutan berhenti—padahal tujuanmu bukan berdiri di situ, tapi sampai ke hidup yang lebih baik. Yang kamu butuhkan bukan komentar pedas, tapi patching kebiasaan.

“Firewall Anti-Aib”

Kalau kamu ingin tetap waras tanpa jadi pertapa digital, coba protokol ini. Anggap saja kamu sedang memasang antivirus di kepala.

  • Pause 5 detik sebelum klik: Tanya, “Ini menambah ilmu atau cuma menambah emosi?”
  • Cek integritas info: “Ini fakta, opini, atau fanfic dengan musik sedih?”
  • Ubah mode dari “hakim” ke “murid”: “Kalau aku ada di situasi serupa, sistemku kuat nggak?”
  • Batasi partisipasi: Jangan share potongan aib pribadi; kalau itu bukan urusan publik, jangan jadikan konsumsi publik.
  • Tutup dengan aksi kecil: Setelah lihat drama, lakukan 1 hal yang bikin hidupmu naik level (baca 2 halaman buku, rapikan CV, olahraga 10 menit, atau minta maaf ke orang yang kamu sakiti).

Bonus rule: kalau kamu tetap nonton, terapkan “rasio gizi informasi”—1 konten gosip harus dibayar 1 konten yang beneran bikin kamu berkembang. Anggap ini pajak hiburan.

Akhirnya begini: kamu tidak bisa mengontrol apa yang muncul di beranda, tapi kamu bisa mengontrol apa yang kamu beri makan. Jangan jadikan bandwidth mentalmu habis untuk aib orang lain, lalu heran kenapa hidupmu lambat—itu bukan nasib, itu latency yang kamu pelihara sendiri.

Mau versi yang lebih tajam: kamu pengin jadi penonton kejatuhan orang, atau jadi orang yang siap kalau diuji hal serupa?

"Waktu Anda terlalu berharga untuk query lambat."

Herman Jaro - Data Enthusiast & Full Stack Developer. Hubungi saya! herman@rumahku.biz.id

Related Articles