Ketika Semua Orang Bisa Mendesain, Tapi Pesan Justru Menghilang
Sejak pandemi, ada paradoks menarik di dunia desain: tools desain belum pernah semudah dan semurah ini, tetapi kualitas komunikasi visual di linimasa justru terasa makin bising.
Template di mana-mana, poster berterbangan, tapi pesan yang benar-benar nyantol di kepala audiens? Jauh lebih sedikit.
Platform seperti Canva, misalnya, kini mengklaim ratusan juta pengguna di seluruh dunia. Sebuah analisis menyebut Canva telah mencapai sekitar 220 juta pengguna dan menjadi simbol “demokratisasi desain” – siapa pun, bahkan yang bukan desainer, bisa membuat poster, pitch deck, sampai konten media sosial hanya dengan drag-and-drop. Pada level akses, ini kabar baik: hambatan teknis runtuh, kesempatan terbuka lebar.
Di saat yang sama, industri kursus online meledak. Laporan McKinsey menunjukkan, jumlah peserta Massive Open Online Courses (MOOC) meroket dari sekitar 300 ribu di 2011 menjadi 220 juta pada 2021, dengan pandemi sebagai akselerator utama. Laporan lain memperkirakan pasar e-learning global menuju ratusan miliar dolar di pertengahan dekade 2020-an. Artinya, jutaan orang di seluruh dunia – termasuk di Indonesia – ikut “upgrade skill” lewat kelas-kelas kilat, termasuk kelas desain.
Namun di lapangan, yang sering muncul adalah fenomena yang Anda sebut: “desainer dadakan” dan “kelas dadakan”. Banyak yang baru kenal tools sebentar, langsung buka jasa desain dan bahkan mengajar, padahal fondasi desain visual belum kokoh. Output-nya bukan desainer grafis yang peka terhadap komunikasi, melainkan sekadar “pembuat poster”: fokus pada warna ramai, font lucu, dan efek estetik… sementara pesan utama tercecer di pinggir kanvas.
Persoalan ini bukan sekadar “banyak desainer abal-abal”, tetapi gejala dari desain sistem yang keliru:
kita meng-upgrade tools, tapi tidak meng-upgrade thinking.
Mari bedah sistemnya, bukan hanya gejalanya.
Fase Audit: Memvalidasi Asumsi di Balik “Desainer Dadakan”
Sebelum menyalahkan individu, perlu audit sistem: asumsi apa yang diam-diam kita pakai tentang desain, belajar, dan komunikasi visual?
Mitos 1: “Punya Tools = Punya Skill Desain”
Ini mitos paling populer.
Logikanya kira-kira begini:
“Kalau sudah bisa pakai Canva/Figma/Photoshop, berarti sudah bisa desain.”
Padahal, tools itu hanya antarmuka, bukan fondasi.
Di balik template yang cantik ada puluhan tahun pengetahuan tentang:
- persepsi visual manusia,
- hirarki informasi,
- tipografi dan readability,
- warna dan asosiasi makna,
- komposisi dan alur baca.
Penelitian di bidang visual communication design menegaskan bahwa desain visual yang efektif bukan sekadar “bagus dilihat”, tapi:
- mudah dipahami,
- meningkatkan kredibilitas sumber, dan
- menggerakkan perilaku tertentu (klik, daftar, beli, hadir, dsb).
Sebuah studi tentang efektivitas desain komunikasi visual di promosi media sosial Universitas Terbuka, misalnya, menemukan bahwa kombinasi warna, tipografi sans-serif modern, dan format konten pendek (reels) secara signifikan memengaruhi engagement Gen Z. Tapi studi yang sama juga mencatat adanya gap: ketika visual tidak sesuai ekspektasi estetika digital Gen Z, keterlibatan menurun, meski informasinya relevan.
Artinya, tool yang sama bisa menghasilkan dampak yang sangat berbeda tergantung pemahaman desain di baliknya.
Mitos 2: “Yang Penting Keren, Soal Pesan Belakangan”
Di era Instagram dan TikTok, estetika sering diperlakukan seperti “dewa utama”. Pesan dianggap otomatis ikut nempel kalau visualnya keren. Ini juga butuh diaudit.
Penelitian tentang pemrosesan visual menunjukkan bahwa manusia memproses visual jauh lebih cepat daripada teks. Sebuah studi yang banyak dikutip mencatat bahwa otak memproses informasi visual sampai puluhan ribu kali lebih cepat dibanding teks, dan visual yang baik dapat meningkatkan retensi informasi hingga beberapa kali lipat. University of Maryland melaporkan bahwa penggunaan visual bisa meningkatkan retensi informasi 200–400% dibanding teks saja.
Tapi ada “catatan kecil” yang sering hilang: itu hanya berlaku jika visualnya jelas, terstruktur, dan relevan dengan pesan.
Kalau informasinya penting (misalnya tanggal acara, harga, syarat, atau call to action), tapi:
- tenggelam di antara ornamen,
- ditulis dengan font dekoratif yang susah dibaca,
- atau warnanya tidak kontras dengan latar,
maka kecepatan pemrosesan visual justru bekerja melawan kita:
mata cepat memindai, tidak menemukan sinyal yang jelas, lalu… scroll.
Sebuah penelitian tentang desain pesan kualitas udara menggunakan desain visual vs teks murni menemukan bahwa desain visual yang dirancang dengan baik meningkatkan pemahaman dan niat perilaku protektif (misalnya memakai masker atau mengurangi aktivitas luar ruangan), dibanding pesan teks biasa. Tapi ketika desain visualnya lemah, efek positif itu menurun drastis.
Jadi, visual bukan jaminan; ia amplifier. Kalau pesannya jelas, ia memperkuat. Kalau pesannya kacau, ia hanya mempercepat kebingungan.
Mitos 3: “Kelas Kilat = Fondasi Desain”
Ledakan kursus online membuat banyak orang merasa cukup ikut:
- “Bootcamp Desain 3 Hari”
- “Jadi Desainer Canva dalam 7 Jam”
- “Bikin Poster Keren Tanpa Teori”
Ada manfaatnya: menurunkan barrier masuk, memberi keberanian untuk mulai eksplor.
Masalahnya muncul ketika kursus kilat diperlakukan sebagai pengganti pendidikan fundamental.
Laporan Worldmetrics mencatat pertumbuhan pesat e-learning global, dengan pasar yang diproyeksikan mencapai ratusan miliar dolar. McKinsey juga menunjukkan lonjakan tajam partisipasi pembelajaran online selama satu dekade terakhir, terutama sejak pandemi. Ini seperti “banjir data” di dunia belajar: banyak, cepat, dan murah. Tapi seperti semua banjir data, kualitasnya sangat bervariasi.mckinsey+1
Penelitian tentang pengajaran desain di era digital menunjukkan bahwa ketika pendidikan desain dipindahkan ke ruang online secara mendadak (seperti saat pandemi), banyak mahasiswa desain mengalami penurunan kualitas karya karena:
- kurangnya feedback mendalam,
- fokus bergeser ke output cepat,
- dan berkurangnya pembahasan prinsip dasar (komposisi, eksplorasi manual, dsb).[tused]
Kalau mahasiswa desain formal saja terdampak seperti itu, bagaimana dengan peserta kelas kilat yang bahkan tidak mendapat kurikulum terstruktur?
Inilah “data error” dalam sistem:
kita menganggap selesai belajar hanya karena sudah “consumed” video atau modul, padahal bandwidth pemahaman belum sebanding dengan kompleksitas problem desain di dunia nyata.
Analisis Inti: Membedakan Noise Poster dari Sinyal Pesan
Sekarang, mari lihat ini sebagai sebuah sistem:
Desain grafis = Sistem Komunikasi Visual.
Secara sederhana, sistem ini punya tiga komponen utama:
- Input
- Tujuan komunikasi (ingin apa? orang datang? daftar? beli? paham isu?)
- Profil audiens (usia, kebiasaan digital, literasi visual)
- Konteks kanal (IG Story, WhatsApp, spanduk jalan, slide presentasi, dsb)
- Batasan (waktu baca, ukuran layar, kapasitas perhatian)
- Process
- Menyusun hirarki informasi
- Memilih struktur layout dan grid
- Menentukan tipografi dan skala
- Mengatur warna, kontras, dan ritme visual
- Menyusun narasi visual dari “lihat” → “paham” → “bertindak”
- Output
- Seberapa cepat pesan dipahami?
- Apa yang paling diingat dari desain tersebut?
- Apakah perilaku yang diinginkan terjadi?
- Apakah brand atau organisasi terlihat lebih kredibel?
Fenomena “pembuat poster asal-asalan” biasanya terjadi karena proses ini dipotong:
Langsung lompat ke Process (buka tools, pilih template, ganti teks),
Akibatnya, kita hanya memodifikasi kulit visual tanpa sadar bahwa:
- tujuan tidak jelas,
- audiens tidak didefinisikan,
- konteks kanal diabaikan,
- dan tidak ada metrik keberhasilan selain “keliatan keren”.
Insentif yang Salah: Like ≠ Paham
Masalah sistemik lain adalah insentif.
Di media sosial, desain yang dianggap “berhasil” sering diukur dengan:
- banyak like,
- banyak share,
- banyak komen “kerennn”.
Padahal, untuk desain komunikasi, metrik yang lebih relevan adalah:
- berapa orang yang benar-benar paham inti pesan,
- berapa yang menindaklanjuti (misal: benar-benar datang ke acara),
- seberapa tepat asosiasi brand yang terbentuk.
Ketika insentif hanya berhenti di level “viral” atau “ramai”, terciptalah feedback loop yang berbahaya:
- Desainer dadakan mengunggah desain yang “ramai”.
- Mendapat like karena warnanya cerah, template-nya eye-catching.
- Like ditafsirkan sebagai validasi keefektifan komunikasi.
- Pola ini diulang dan diajarkan di kelas-kelas kilat.
- Sistem memperbanyak “noise visual” yang cantik, tapi miskin makna.
Padahal penelitian tentang efektivitas desain visual untuk brand menekankan faktor konsistensi, kejelasan, dan keterpaduan pesan sebagai kunci keberhasilan jangka panjang, bukan sekadar satu-dua konten yang mencolok. Coca-Cola, misalnya, menjadi salah satu contoh klasik: warna, tipografi, dan gaya visual mereka dijaga konsisten selama puluhan tahun untuk membangun asosiasi yang kuat. Ini bukan tentang “poster hari ini kelihatan keren”, tapi sistem visual yang terencana.[binus.ac]
Legacy System: Kebiasaan Lama yang Ikut Pindah ke Tools Baru
Banyak organisasi (termasuk komunitas dan UMKM) sebenarnya masih membawa “legacy system” komunikasi lama:
- Semua informasi penting harus dimasukkan di satu poster.
- Semakin banyak teks, dianggap semakin informatif.
- Semua elemen dianggap sama pentingnya (tidak ada hirarki).
- Warna dipilih “biar rame” atau “asal beda dari kompetitor”.
Ketika mindset ini dipindah ke tools modern seperti Canva, yang terjadi adalah:
- template yang tadinya bersih dipenuhi terlalu banyak teks,
- call to action tenggelam,
- brand identity tidak konsisten dari satu konten ke konten lain.
Studi di Universitas Terbuka tadi menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan tipografi dan warna mengganggu kesesuaian antara citra yang ingin dibangun institusi dan ekspektasi visual Gen Z. Ini contoh nyata bagaimana “legacy system” komunikasi lama bertabrakan dengan estetika dan kebiasaan konsumsi visual generasi baru.[journal.isi.ac]
Bandwidth Audiens: Kapasitas Perhatian Itu Terbatas
Konsep lain yang penting adalah bandwidth mental audiens.
Penelitian komunikasi dan pemasaran digital menunjukkan bahwa manusia dibombardir oleh ribuan pesan visual setiap hari. Dalam kondisi begitu banyak input, kapasitas atensi (bandwidth) menjadi resource paling langka.[binus.ac]
Beberapa temuan menarik:
- Visual membuat orang lebih mau membaca: satu studi menemukan bahwa visual berwarna dapat meningkatkan willingness to read hingga sekitar 80%.[moldstud]
- Presentasi dengan visual terbukti sekitar 43% lebih persuasif daripada teks saja.[moldstud]
Namun bandwidth itu tetap terbatas. Kalau desain kita:
- membebani mata dengan terlalu banyak elemen,
- menggunakan tipografi yang melelahkan,
- atau menumpuk informasi penting tanpa prioritas,
maka audiens akan drop connection:
mereka mungkin sempat “connect” 1–2 detik, lalu memutus sambungan karena terlalu berat.
Desain yang baik seharusnya mengoptimalkan bandwidth, bukan menghabiskannya.
Solusi: Dari Pembuat Poster ke Perancang Pesan
Bagaimana berpindah dari sekadar “pembuat poster” menjadi perancang pesan visual yang efektif – bahkan kalau latar belakang Anda bukan desainer formal?
Kuncinya: perbaiki sistem, bukan hanya niat.
Berikut protokol yang bisa dieksekusi.
1. Mulai dari Output: Definisikan Perilaku, Bukan Sekadar Visual
Sebelum buka Canva, jawab dengan jujur:
- Orang yang melihat desain ini harus melakukan apa?
- Datang ke acara?
- Klik link?
- Mengingat tanggal?
- Mengubah opini?
- Berapa detik rata-rata mereka akan melihat desain ini?
- 1–3 detik di feed?
- 5–10 detik di WhatsApp group?
- 30–60 detik di slide presentasi?
Tuliskan satu kalimat tujuan, misalnya:
“Dalam 3 detik, orang harus paham bahwa ada webinar gratis tentang budgeting tanggal 20 Februari, dan terdorong klik link pendaftaran.”
Kalimat sederhana ini akan jadi “query utama” yang memandu semua keputusan visual.
2. Bersihkan Input: Batasi Pesan ke 1–2 Inti Saja
Sering kali, poster gagal karena ingin mengangkut terlalu banyak field dalam satu paket data:
- judul panjang,
- tagline filosofis,
- nama semua pembicara dengan gelar lengkap,
- profil panitia,
- rundown acara,
- sponsor,
- dan lain-lain.
Untuk setiap desain, tetapkan:
- Pesan utama: satu hal yang wajib diingat.
- Pesan sekunder: 1–2 hal yang boleh diingat kalau ada bandwidth.
Lainnya bisa dipindah ke:
- caption,
- landing page,
- carousel slide berikutnya,
- atau dokumen terpisah.
Ini seperti normalisasi data dalam basis data:
kalau semua disimpan di satu tabel, sistem akan berat dan rawan error.
3. Rancang Hirarki Visual: Siapa yang “Berteriak” Lebih Dulu?
Hirarki visual adalah cara mengatur elemen agar mata tahu mana yang penting duluan. Prinsip dasarnya:
- Satu elemen utama paling dominan (biasanya judul atau benefit utama).
- 2–3 elemen sekunder dengan ukuran/kontras lebih rendah.
- Sisanya menjadi konteks dengan bobot visual ringan.
Praktiknya:
- Pilih satu ukuran font terbesar untuk pesan inti (bukan nama event yang panjang, tapi esensi: “Webinar Gratis: Kelola Gaji Pertama”).
- Gunakan kontras warna tinggi untuk pesan inti (misal teks putih di atas blok warna solid gelap).
- Jaga jarak (whitespace) di sekitar pesan inti agar tidak “tercekik” elemen lain.
Penelitian tentang pengukuran efektivitas visual communication design menekankan pentingnya keterbacaan (legibility), kejelasan struktur, dan fokus pada elemen yang membawa makna utama. Ini bukan hanya teori estetika, tetapi berkaitan langsung dengan seberapa cepat pesan dipahami dan diingat.
4. Bangun Sistem Warna dan Tipografi yang Konsisten
Alih-alih tiap poster ganti gaya total, perlakukan brand Anda seperti produk yang butuh versi stabil, bukan eksperimen harian.
Ambil inspirasi dari temuan-temuan berikut:
- Artikel tentang peran visual communication design dalam brand menekankan bahwa konsistensi warna, logo, dan gaya visual membantu menciptakan identitas yang mudah dikenali lintas platform.
- Studi lain mencatat bahwa warna memengaruhi willingness to read dan pembentukan persepsi secara signifikan.[
Langkah praktis:
- Pilih 2–3 warna utama dan 1–2 warna aksen. Simpan kodenya (hex/RGB).
- Tetapkan maksimal 2 jenis font:
- satu untuk judul (display),
- satu untuk isi (body) yang mudah dibaca.
- Buat skala ukuran font (misal 32–24–18–14) dan gunakan berulang.
Ini seperti membuat schema yang rapi:
ketika schema jelas, menambah data (konten baru) jadi jauh lebih mudah dan konsisten.
5. Kurangi Ornamen, Perkuat Struktur
Banyak desain gagal bukan karena kurang “rame”, tapi karena kurang struktur.
Checklist sederhana:
- Apakah ada grid imajiner yang mengatur alignment elemen?
- Apakah jarak antar elemen konsisten?
- Apakah ada cukup ruang kosong agar mata bisa “bernapas”?
Ingat: ornamen adalah kompresi visual yang sering tidak perlu.
Kalau Anda menghapus 30% elemen dekoratif dan pesan malah terasa lebih jelas, itu tanda bahwa sebelumnya sistem Anda penuh “noise”.
6. Lakukan “Smoke Test”: Uji Dalam 5 Detik
Sebelum menganggap desain sudah jadi, lakukan tes sederhana ke 3–5 orang (bisa teman atau rekan tim):
- Tunjukkan desain selama 5 detik, lalu tutup.
- Minta mereka menjawab:
- “Ini tentang apa?”
- “Kapan?”
- “Kalau mau ikut, harus ngapain?”
Kalau mayoritas tidak bisa menjawab dengan benar, berarti:
- hirarki visual gagal,
- pesan terlalu banyak,
- atau tipografi/kontras buruk.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan dalam riset pengukuran efektivitas desain visual: desain perlu diuji terhadap pemahaman dan bukan hanya kesan estetik. Tidak perlu alat canggih; tes 5 detik saja sudah memberi sinyal kuat.
7. Naik Kelas: Belajar Fondasi, Bukan Cuma Shortcut
Kalau benar-benar ingin keluar dari jebakan “desainer dadakan”, perlu investasi di:
- prinsip persepsi visual (Gestalt),
- dasar-dasar tipografi,
- psikologi warna,
- semiotika (bagaimana gambar membawa makna).
Penelitian tentang pengajaran desain di era digital mengusulkan pendekatan hybrid: menggabungkan teknik tradisional (sketsa, kritik langsung) dengan tools digital, agar mahasiswa tidak hanya jago software tapi juga kuat di pemikiran desain. Prinsip serupa bisa diterapkan oleh pembelajar mandiri:[tused]
- Jangan hanya ikut kelas “how to use tools”.
- Carilah materi yang membahas kenapa suatu desain efektif, bukan hanya bagaimana membuatnya.
Bayangkan ini sebagai refactoring sistem, bukan sekadar patching bug:
- Patching: ganti template kalau engagement turun.
- Refactoring: membangun ulang cara berpikir desain dari fondasi.
Kesimpulan: Saatnya Meng-install Pola Pikir “Perancang Pesan”
Kita hidup di era di mana:
- Tools desain sudah sangat terdemokratisasi.zamora+1
- Kursus online melimpah ruah dan makin murah.emailvendorselection+2
- Audiens dibanjiri ribuan pesan visual setiap hari.
Di satu sisi, ini peluang luar biasa: siapa pun bisa bersuara lewat desain.
Di sisi lain, tanpa fondasi dan cara berpikir yang tepat, yang tercipta adalah banjir poster yang justru menenggelamkan pesan penting.
Desain grafis bukan sekadar kemampuan “menghias layar”, tapi seni dan sains merancang alur informasi di kepala manusia. Tools hanyalah kompiler; kualitas “kode” ada di cara kita:
- mendefinisikan tujuan,
- memahami audiens,
- menyusun hirarki informasi,
- dan menguji dampak.
Jika Anda selama ini merasa hanya “pembuat poster”, bukan desainer, mungkin yang perlu di-upgrade bukan sekadar skill teknis, tapi model mental:
- Dari “Bagaimana bikin ini kelihatan keren?”
ke
“Bagaimana memastikan orang paham dan bergerak setelah melihat ini?”
Mulailah dari proyek kecil Anda berikutnya:
- Tulis tujuan perilakunya.
- Batasi pesan ke 1–2 inti.
- Bangun hirarki visual yang jelas.
- Konsistenkan warna dan tipografi.
- Uji 5 detik ke beberapa orang.
Lakukan ini berulang, dan pelan-pelan Anda sedang meng-install sistem baru:
bukan lagi sekadar pembuat poster, tapi perancang pesan visual yang menghormati bandwidth audiens dan memanfaatkan kekuatan visual secara penuh – seperti seorang arsitek sistem, bukan sekadar operator software.
Di era serba visual ini, dunia tidak butuh lebih banyak poster.
Dunia butuh lebih banyak pesan yang benar-benar sampai, bukan yang memenuhi kepala mereka.
"Sistem bagus adalah yang tak terlihat — tapi terasa di setiap klik."