Herman Jaro

v3.0.42
← Back to Chronicle

Sekolah Terlalu Teoritis - Benarkah Sekolah Itu Scam?

5 min read

Sekolah memang sering terasa “terlalu teoritis”. Tidak ada yang menawar harga cabai pakai rumus integral, dan tidak ada penjual ikan yang menimbang dagangan sambil menghitung energi kinetik. Tapi anehnya, semua itu tetap diajarkan dengan serius di kelas. Pertanyaannya: kenapa sistem pendidikan tetap ngotot mengajarkan hal-hal yang kelihatannya tidak relate dengan hidup sehari-hari?

Artikel ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan yang ringan, tapi tetap tajam dan sistematis—seperti cara kita menganalisis data: bedakan sinyal dari noise, lihat konteks, dan sadar bahwa tidak semua yang penting akan terasa penting “sekarang juga”.


1. “Kalau di pasar nggak dipakai, buat apa dipelajari?”

Pertama, perlu diakui: dari sudut pandang praktis jangka pendek, banyak materi sekolah memang tampak tidak diperlukan.

Kalimat seperti ini sering terdengar:

  • “Ngapain belajar integral, di pasar juga tinggal nawar.”
  • “Fisika susah-susah, toh hidup cuma butuh bisa cari uang.”
  • “Yang penting bisa baca-tulis dan hitung dasar, selebihnya bonus.”

Secara emosional, ini masuk akal. Otak manusia memang lebih menghargai hal yang terasa langsung berguna. Tapi ada beberapa kesalahan logika di sini:

  1. Menyamakan “tidak terpakai hari ini” dengan “tidak berguna sama sekali”.
  1. Mengukur nilai pengetahuan hanya dari fungsi transaksional.
  1. Lupa bahwa hidup bukan cuma soal bertahan hidup, tapi juga berkembang.

Jadi, mungkin pertanyaannya perlu diubah:

Bukan lagi “dipakai di pasar atau tidak?”, tapi “apa efek jangka panjangnya terhadap cara kita berpikir dan bertindak?”.


2. Ilmu abstrak sebagai “gym” untuk otak

Bayangkan otak seperti otot. Di gym, orang mengangkat besi yang tidak akan pernah mereka angkat di kehidupan nyata:

tidak ada kantor yang menyuruh karyawan mengangkat barbel 50 kg sebagai bagian dari jobdesk.

Tapi mereka tetap melakukannya, karena: bukan besinya yang penting, tapi kekuatan yang terbentuk.

Matematika, fisika, dan konsep-konsep abstrak di sekolah itu mirip gym untuk otak:

  • Saat mengerjakan soal integral, otak dilatih:
  • Saat belajar energi kinetik, otak belajar:

Secara langsung, memang tidak ada yang bertanya “berapa integral dari fungsi ini?” saat kita belanja.

Tapi pola pikir yang terlatih itu muncul dalam bentuk lain:

  • Lebih teliti membaca kontrak.
  • Lebih kritis membedakan fakta dan opini.
  • Lebih hati-hati sebelum mengambil keputusan finansial.
  • Lebih terstruktur ketika menjelaskan sesuatu ke orang lain.

Di dunia kerja modern, cara berpikir ini jauh lebih menentukan nasib seseorang daripada hafalan materi itu sendiri.


3. Data yang tidak lengkap: hidup nyata vs isi kurikulum

Kalau melihat hidup sehari-hari sebagai “dataset”, ada satu jebakan: kita hanya melihat fitur-fitur yang kelihatan, padahal banyak hal yang bekerja di belakang layar.

Contoh sederhana:

  • Orang di pasar tidak pakai istilah “statistika”, tapi tanpa sadar mereka:
  • Tukang bangunan mungkin tidak menyebut “trigonometri”, tapi mereka:

Artinya, banyak konsep “tidak relate” itu sebenarnya sudah bekerja dalam hidup nyata, hanya saja bahasanya berbeda.

Sekolah mengajarkannya dalam bentuk “formal dan terstruktur”, sementara hidup memakainya dalam bentuk “intuisi dan kebiasaan”.

Masalahnya: kalau kita hanya mengandalkan intuisi tanpa pernah mengenal konsep formalnya, kemampuan kita mentoleransi hal rumit akan mentok.

Seperti orang yang bisa feeling kapan server lambat, tapi tidak paham sedikit pun tentang metrics, logging, atau root cause.


4. Dari “hafal rumus” ke “cara berpikir ilmiah”

Keluhan paling valid sebenarnya bukan “materinya terlalu sulit”, tapi “cara mengajarkannya terlalu kering”.

Yang sering terjadi di kelas:

  • Rumus diberikan tanpa konteks.
  • Contoh soal dibuat artifisial, bukan situasi nyata.
  • Fokus ke nilai ujian, bukan ke pemahaman.

Akibatnya:

  • Murid hafal, tapi tidak paham.
  • Ilmu terasa seperti “beban”, bukan “alat”.
  • Orang dewasa lalu tumbuh dengan kalimat, “Ah, itu cuma teori.”

Padahal, tujuan belajar sains dan matematika bukan cuma tahu rumus, tapi:

  1. Belajar membedakan sinyal vs noise.
  1. Belajar skeptis dengan cara yang sehat.
  1. Belajar bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang bicara, tapi oleh argumen dan bukti.

Inilah yang dimaksud: ilmu itu membiasakan pribadi untuk berpikir ilmiah, bukan sekadar menambah koleksi rumus di kepala.


5. Ketika “tidak mau belajar” dibungkus dengan alasan “nggak penting”

Ada satu fenomena sosial yang menarik (dan agak getir):

ada orang yang sebenarnya tidak mau bersusah payah berpikir, lalu menutupi itu dengan kalimat-kalimat tampak logis:

  • “Yang penting bisa hidup.”
  • “Yang penting attitude.”
  • “Yang penting kaya, nggak perlu rumus-rumusan.”

Kalimat seperti ini terdengar wajar, tapi sering dipakai untuk:

  • Menghindari rasa malu karena tidak paham.
  • Menghindari kerja keras intelektual.
  • Menormalisasi kemalasan berpikir.

Ini mirip orang yang bilang:

  • “Ngapain ngerti arsitektur sistem, yang penting bisa pakai aplikasi.”
  • “Ngapain paham keamanan data, yang penting bisa login.”

Apakah semua orang harus jadi ilmuwan? Tentu tidak.

Tapi ketika “ketidaktahuan” dibungkus sebagai “kebijakan hidup”, lama-lama:

  • Masyarakat jadi anti-sains.
  • Teori konspirasi mudah diterima.
  • Kebijakan publik dibuat tanpa data yang benar.

Jadi, kritik terhadap “ilmu tidak relate” perlu dipisah antara:

  1. Kritik yang sehat:
  1. Kritik yang cuma topeng:

6. Sekolah sebagai “sistem”: bukan hanya pabrik tenaga kerja

Kalau pendidikan cuma dilihat sebagai pabrik pencetak pekerja, maka wajar kalau semua diukur dari:

“Seberapa cepat ilmu ini bisa dipakai cari uang?”

Tapi sistem pendidikan yang sehat punya fungsi lebih dari itu:

  • Menyiapkan manusia yang bisa:

Ilmu-ilmu yang tampak abstrak itu:

  • mengajari kita bahwa dunia punya pola,
  • menunjukkan bahwa banyak hal bisa dimodelkan,
  • melatih kita menerima bahwa kadang jawaban tidak bisa instan.

Di dunia yang serba cepat, kemampuan menahan diri untuk berpikir lebih dalam sebelum bereaksi adalah soft skill yang sangat berharga. Dan itu dilatih lewat hal-hal yang tampaknya “sepele”: mengerjakan soal matematika yang butuh beberapa langkah, memahami diagram, membaca data.


7. Lalu, apa yang perlu diperbaiki?

Membela pentingnya ilmu abstrak bukan berarti menutup mata terhadap kelemahan sistem pendidikan. Justru sebaliknya, kalau mau jujur, beberapa hal memang perlu di-upgrade:

  1. Konteks harus diperkuat.
  1. Bahasa harus direndahkan tanpa merendahkan isinya.
  1. Guru perlu ruang berkreasi.
  1. Penilaian harus menilai cara berpikir, bukan sekadar hafalan.

8. Menutup: Ilmu yang “tidak relate” itu seringkali sedang menyiapkan kita untuk masalah yang belum kelihatan

Kalimat seperti, “Di pasar nggak ada yang tanya rumus integral,” benar—tapi itu pertanyaan yang salah arah.

Karena:

  • Tidak ada juga orang di pasar yang tanya:
  • Tapi hidup kita ditentukan oleh orang-orang yang dulu mau bersusah payah belajar hal-hal abstrak itu.

Jadi, saat sekolah mengajarkan ilmu yang “terlalu rumit dan seolah tidak berguna”, ada dua opsi respon:

  1. Menolaknya mentah-mentah sambil bilang: “Nggak kepake di hidup gue.”
  1. Bertanya: “Apa pola pikir yang sedang dilatih di balik ini? Bisa nggak gue ambil manfaat cara berpikirnya meskipun gue nggak akan pakai rumusnya sehari-hari?”

Opsi kedua lebih melelahkan, tapi juga lebih memerdekakan.

Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuan bukan hanya soal isi bukunya—tapi soal siapa kita menjadi apa setelah melewati proses mempelajarinya.

"Statistik tanpa cerita sia-sia. Sistem tanpa data buta."