Anak Marah ke Pelajaran IPA: Masalah di Anak, Guru, atau Sistemnya?
Suara anak di video itu lantang: “Ngapain sih IPA dijelasin seribet itu?!”
Di kolom komentar, perang dua kubu:
- Kubu pertama: menyalahkan anak. “Dasar generasi mager, semua maunya instan.”
- Kubu kedua: menyalahkan guru dan sekolah. “Kenapa sih bikin rumus kayak mau ujian masuk NASA?”
Yang menarik, video pendek ini viral bukan karena isinya super ilmiah, tapi karena menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar: rasa frustrasi kolektif terhadap cara kita mengajar sains.
Padahal di sisi lain, dunia ribut soal pentingnya STEM, inovasi teknologi, dan “golden ticket” bagi siapa pun yang jago sains. Negara butuh lebih banyak ilmuwan, insinyur, dan problem solver. Tapi di ruang kelas, banyak anak justru mengasosiasikan IPA dengan: pusing, rumit, dan tugas tak berujung.
Jika dilihat dengan kacamata “desain sistem”, ini bukan sekadar drama satu anak yang malas belajar. Ini alarm bahwa ada sesuatu yang salah di arsitektur cara kita mengajarkan IPA: dari kurikulum, cara guru menjelaskan, sampai ekspektasi orang dewasa.
Artikel ini akan meng-audit “sistem IPA” di sekolah:
- Apakah benar IPA memang “terlalu rumit”?
- Atau cara kita mengemasnya yang membuat otak anak overload?
- Dan yang lebih penting: apa yang bisa di-patch dan di-optimize tanpa harus menunggu reformasi nasional yang muluk-muluk?
Fase Audit: Memvalidasi Asumsi tentang IPA yang “Terlalu Ribet”
Sebelum menyalahkan generasi, guru, atau kurikulum, perlu ada system audit: memvalidasi asumsi dengan data, bukan hanya emosi.
Mitos Populer yang Bikin Diskusi Macet
Beberapa narasi yang sering muncul setiap kali anak mengeluh IPA sulit:
- “IPA emang begitu, kalau gampang itu namanya dongeng, bukan sains.”
- “Kalau materi disederhanakan, nanti kualitas turun dan anak jadi bodoh.”
- “Masalahnya di generasi, bukan di pelajaran.”
- “Yang penting anak nurut, ngerti belakangan.”
Semua ini terdengar intuitif, tapi apakah datanya mendukung?
Data Global: Banyak Anak Memang Tidak Suka Sains
Studi TIMSS 2023 yang meneliti sikap siswa terhadap sains menemukan bahwa secara internasional, sekitar 53% siswa kelas 4 mengatakan mereka “sangat suka” belajar sains. Namun di kelas 8, angkanya turun: kurang dari separuh yang masih “sangat suka” sains.timss2023+1
Artinya, semakin naik jenjang, semakin banyak anak yang “kehilangan rasa suka” terhadap IPA. Ini bukan fenomena Indonesia saja, tapi pola global.
Kalau dikonversi ke “social math”:
Bayangkan satu sekolah dasar dengan 4 kelas paralel, masing-masing 30 murid:
- Di kelas 4, kira-kira 16 anak per kelas sangat suka sains.
- Di SMP (kelas 8), mungkin tinggal 12 atau kurang yang masih benar-benar menikmati pelajaran IPA.
Sisanya? Mereka hadir secara fisik, tapi secara mental koneksi ke sains mulai putus.
Data Indonesia: Naik Peringkat, Tapi Mayoritas Masih Kesulitan Sains
Di Indonesia, Kementerian Pendidikan merilis hasil PISA 2022: peringkat Indonesia naik 5–6 posisi untuk literasi membaca, matematika, dan sains dibanding 2018. Kabar baik? Ya. Tapi mari lihat detailnya.pisa2025+2
OECD mencatat: hanya sekitar 34% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains. Level 2 ini bukan level “jenius”, tapi level dasar:[oecd]
- Bisa mengenali penjelasan ilmiah sederhana untuk fenomena sehari-hari.
- Bisa mengecek apakah suatu kesimpulan masuk akal dalam kasus yang tidak terlalu rumit.
Dengan kata lain, di satu kelas berisi 30 siswa, sekitar 20 anak masih kesulitan mencapai kemampuan sains dasar, hanya 10-an anak yang berada di zona “cukup nyaman”.
Kalau bandwidth kelas (waktu, energi guru) tetap sama, tapi mayoritas peserta didik kesulitan, wajar kalau yang terdengar di permukaan adalah keluhan: “Kok IPA ribet banget?”
Sikap terhadap Sains Berhubungan Langsung dengan Prestasi
Beberapa riset menunjukkan bahwa sikap siswa terhadap sains sangat berhubungan dengan prestasi dan pilihan karier mereka. Studi internasional yang meninjau sikap terhadap sains selama puluhan tahun menemukan bahwa minat dan sikap positif turun seiring usia, dan hal ini menjadi perhatian banyak negara.[academia]
Riset lain tahun 2025 menemukan bahwa sikap positif terhadap sains dan keterlibatan di kelas membentuk feedback loop saling menguatkan:
- Murid yang punya sikap positif → lebih aktif di kelas → prestasi naik → makin suka sains.
- Murid yang sudah antipati → pasif → prestasi turun → makin benci sains.[theknowledge.com]
Ini artinya, keluhan di video tadi bukan sekadar “bad mood”. Bisa jadi itu refleksi dari sikap negatif yang sudah lama terbentuk oleh cara sains diajarkan.
Bukti Lokal: Mengubah Cara Mengajar Bisa Mengubah Sikap
Kabar baiknya, sikap ini bisa berubah. Sebuah penelitian di Bandung menganalisis penggunaan model Discovery Learning pada topik ekologi dan keanekaragaman hayati di kelas VII SMP. Hasilnya:
- Rata-rata skor sikap terhadap sains naik dari sekitar 53% menjadi 70%.
- Peningkatan ini dikategorikan cukup signifikan, dengan N-Gain total 0,30.[e-journal.iain-palangkaraya.ac]
Angka ini bukan hanya soal statistik; kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari:
- Di awal, hanya sekitar setengah kelas yang merasa “okelah” sama IPA.
- Setelah pembelajaran dirancang lebih eksploratif dan bermakna, mayoritas mulai merasa lebih positif.
Jadi, asumsi “nggak ada yang bisa dilakukan, sains memang bawaan susah” tidak valid. Sistem bisa diubah, dan anak bisa terbantu.
Analisis Inti: Signal vs Noise di Balik Keluhan “IPA Ribet”
Sekarang masuk ke dapur masalahnya. Di permukaan, yang kelihatan adalah:
- Anak yang marah-marah di video.
- Orang dewasa yang ikut debat di komentar.
Itu semua noise. Sementara signal yang perlu kita tangkap:
- Kenapa instruksi IPA di sekolah sering terasa seperti “spam data” buat otak anak?
- Apa yang salah dari desain pembelajaran, bukan dari isi sains itu sendiri?
Keterbatasan “Bandwidth” Otak: Kacamata Cognitive Load Theory
Dalam dua dekade terakhir, Cognitive Load Theory (CLT) muncul sebagai salah satu teori paling penting dalam dunia pendidikan. CLT menjelaskan bahwa memori kerja manusia punya kapasitas yang sangat terbatas, kira-kira hanya bisa memproses 4–7 “unit informasi baru” pada satu waktu.chartered+3
CLT membagi beban mental (cognitive load) jadi tiga:
- Intrinsic load:
- Extraneous load:
- Germane load:
Masalahnya: kelas IPA di banyak sekolah menekan gas di intrinsic load dan extraneous load secara bersamaan, sementara germane load-nya justru minim.
Akibatnya, memori kerja murid overload — seperti membuka 30 tab sekaligus di laptop kentang. Hasilnya bukan “anak jadi pintar”, tapi:
- Frustrasi.
- Shutdown mental.
- Kemudian muncul narasi: “IPA itu ribet dan menyeramkan.”
Contoh Konkret: Ketika Satu Bab Diisi Seperti 10 Bab
Bayangkan satu pertemuan IPA SMP tentang “Gaya dan Gerak”. Dalam satu jam pelajaran, guru mencoba memadatkan:
- Definisi gaya.
- Jenis-jenis gaya.
- Hukum Newton 1, 2, 3.
- Rumus F = m × a.
- Contoh soal cerita.
- Ditambah tugas latihan.
Itu sama saja seperti menyalurkan 10 GB data lewat jaringan dengan bandwidth 2 Mbps. Latency tinggi, paket banyak yang drop. Di otak murid, yang tertinggal cuma: “Pokoknya gaya itu dorong tarik, terus ada rumus F = m × a, selesai.”
Dari sudut pandang CLT, ini desain instruksional dengan element interactivity yang terlalu tinggi: terlalu banyak elemen baru yang saling terkait dikenalkan sekaligus. Bagi murid yang belum punya schema dasar (misalnya belum benar-benar paham apa itu percepatan), semua itu terasa seperti spam.
Insentif Sistem: Guru Dikejar Silabus, Bukan Pemahaman
Kalau ditelusuri lebih jauh, perilaku guru juga produk dari insentif sistem:
- Silabus padat, kalender akademik sempit.
- Ujian berbasis hafalan dan rumus.
- Pelatihan guru sering konseptual, kurang masuk ke desain micro-level pembelajaran.
Dalam bahasa sistem: input-nya sudah bias (kurikulum dan ujian yang tidak seimbang), jadi output-nya pun ikut bermasalah (kelas yang membanjiri murid dengan beban kognitif).
“Legacy System” di Kepala Orang Dewasa
Ada satu lagi layer: cara orang dewasa memandang sains sering masih pakai legacy system. Mereka bangga dengan narasi:
- “Dulu guru saya killer, tapi justru itu yang bikin saya sukses.”
- “Kalau tidak keras, anak-anak sekarang tidak akan kuat.”
Problemnya, cerita sukses seperti ini sering mengandung survivor bias:
- Yang bersuara adalah mereka yang selamat dan berhasil dalam sistem lama.
- Yang drop out, hancur mental, atau menjauhi sains, tidak muncul di ruang diskusi.
Kalau dilihat dari skala nasional—misalnya hanya sepertiga siswa yang mencapai level literasi sains dasar—jelas bahwa sistem lama hanya efektif untuk minoritas, bukan mayoritas.kemendikdasmen+1
Tetap memegang “legacy mindset” ini berarti memaksa generasi sekarang memakai software lama di hardware yang berbeda, dengan tuntutan dunia yang juga jauh berubah.
Feedback Loop yang Mengurung
Semua ini membentuk feedback loop yang cukup kejam:
- Kelas IPA dirancang padat, abstrak, dan penuh extraneous load.
- Murid kesulitan, mulai benci IPA.
- Sikap negatif membuat mereka pasif, nilai turun.
- Guru melihat murid pasif → makin terdorong “mengejar materi” dengan gaya ceramah cepat.
- Lingkaran ini terus berputar.
Studi tahun 2025 tentang hubungan sikap terhadap sains dan keterlibatan di kelas justru menegaskan lingkaran ini: sikap dan engagement saling memperkuat—positif maupun negatif.[theknowledge.com]
Keluhan “IPA ribet” dalam video tadi hanyalah titik kecil yang memperlihatkan loop besar ini.
Solusi: Dari Patching Kecil hingga Optimasi Sistemik
Kalau masalahnya sistemik, solusinya juga tidak bisa sekadar: “Anak harus lebih rajin.” Perlu patching di beberapa layer sekaligus: desain pembelajaran di kelas, kebiasaan guru, cara orang tua merespon, hingga orientasi penilaian.
Berikut beberapa protokol konkret yang bisa dieksekusi, tanpa menunggu revolusi besar-besaran.
1. Mengurangi “Noise” Instruksi: Audit Beban Kognitif di Kelas
Guru bisa mulai dengan melakukan “audit beban” untuk setiap sesi IPA:
Pertanyaan kunci sebelum mengajar:
- Berapa konsep baru yang akan dikenalkan hari ini?
- Mana yang termasuk intrinsic load, mana yang extraneous?
- Apakah slide, buku, atau penjelasan lisan memaksa murid memproses hal-hal yang tidak perlu?
Langkah praktis:
- Pecah satu bab besar menjadi beberapa mini-sesi:
- Gunakan visual sederhana dan konsisten:
Intinya: kurangi extraneous load sehingga bandwidth mental murid bisa dipakai untuk hal yang benar-benar penting.
2. Menyambungkan Sains ke Realitas: Dari Abstrak ke Konkret
Banyak anak merasa IPA “ribet” karena tidak melihat apa hubungannya dengan hidup mereka secara langsung. Padahal, germane load justru meningkat ketika otak merasa informasi itu relevan.
Beberapa cara praktis:
- Mulai dari pertanyaan kehidupan sehari-hari:
- Baru setelah itu dikenalkan istilah ilmiah:
Penelitian tentang program STEM di sekolah dasar menunjukkan bahwa ketika sains dikaitkan dengan lingkungan sekitar dan kehidupan nyata, sikap murid terhadap sains cenderung lebih positif dan minat bertahan lebih lama.[academia]
3. Menggunakan “Chunking” dan “Layering” seperti Desain Sistem
Dalam dunia sistem dan data, informasi tidak pernah dikirim sekaligus dalam satu paket raksasa. Selalu ada chunking dan layering. Prinsip serupa bisa dipakai untuk IPA.
Protokol sederhana:
- Chunking konsep:
- Layering tingkat abstraksi:
Dengan cara ini, murid tidak langsung dilempar ke “API abstrak” sains tanpa memahami “user interface”-nya dulu.
4. Menggeser Tugas dari “Menghafal” ke “Menjelaskan”
Salah satu patch paling efektif adalah mengubah format tugas:
- Dari:
- Menjadi:
Studi sikap terhadap sains dan engagement kelas menyarankan strategi seperti ini: kegiatan yang mengajak murid merefleksi, menjelaskan, dan menghubungkan sains dengan diri mereka akan memperbaiki sikap dan keterlibatan.[theknowledge.com]
Tugas jenis ini mungkin tidak terlihat “serius” di mata sebagian orang dewasa, tapi secara kognitif, ia memicu germane load yang jauh lebih bermanfaat daripada 20 soal hitung-hitung tanpa makna.
5. Orang Tua: Mengurangi Tekanan Hasil, Menambah Kualitas Dialog
Orang tua sering tanpa sadar menambah extraneous load emosional:
- “Nilai IPA kamu harus 90, ya. Kalau nggak, nanti susah cari kerja.”
- “Kok IPA cuma segini? Teman kamu bisa, masa kamu nggak?”
Kalimat seperti ini menambah layer kecemasan yang justru menguras bandwidth mental. Anak jadi belajar dengan mode “survival”, bukan eksplorasi.
Alternatif yang lebih sehat:
- Fokus ke proses:
- Validasi kesulitan:
- Rayakan kemajuan kecil:
Dalam jangka panjang, ini membantu membentuk sikap positif terhadap sains, bukan trauma terhadap pelajarannya.
6. Kebijakan dan Sekolah: Ubah Definisi “Berhasil”
Di level yang lebih makro, sekolah dan pembuat kebijakan perlu mengutak-atik definisi “output” yang diharapkan:
- Kalau yang dihargai hanya nilai ujian dan kelulusan materi, guru akan terus terjebak pada mode “kejar tayang”.
- Kalau indikator keberhasilan juga mencakup:
…maka desain pembelajaran otomatis akan bergeser.
Penelitian di Bandung tentang Discovery Learning menunjukkan bahwa ketika proses belajar memberi ruang eksplorasi dan penemuan, sikap terhadap IPA membaik signifikan. Ini sinyal kuat bahwa mengubah cara kita mendefinisikan “belajar IPA yang baik” punya dampak langsung ke pengalaman siswa.[e-journal.iain-palangkaraya.ac]
Kesimpulan: Saatnya Meng-install Cara Pandang Baru terhadap “IPA Ribet”
Keluhan anak di video bahwa IPA diajarkan terlalu ribet bukan sekadar tantrum generasi gadget. Jika dilihat dari data global dan nasional, dari teori beban kognitif hingga riset sikap terhadap sains, gambarnya konsisten:
- Banyak anak memang merasa sains itu berat, apalagi ketika naik jenjang.
- Di Indonesia, hanya sekitar sepertiga siswa yang mencapai literasi sains dasar; mayoritas masih bergumul di level sangat dasar.kemendikdasmen+1
- Cara kita mendesain pembelajaran kerap menumpuk intrinsic load dan extraneous load tanpa sadar, sambil lupa memupuk germane load yang membangun pemahaman.
Ini bukan soal siapa yang harus disalahkan, tapi soal arsitektur sistem yang perlu di-refactor.
Untuk guru, ini berarti:
- Berani meng-audit cara mengajar: mana yang bikin otak anak overload.
- Mengurangi “noise” dalam penjelasan, memecah konsep, dan menghubungkannya ke realitas hidup siswa.
Untuk orang tua:
- Mengurangi tekanan berbasis angka semata.
- Mengganti narasi “kamu harus jago” dengan “yuk kita pahami pelan-pelan”.
Untuk sekolah dan pembuat kebijakan:
- Menggeser definisi keberhasilan dari sekadar nilai menuju sikap, pemahaman konsep, dan kemampuan menjelaskan dunia dengan lensa sains.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi: “Anak-anak sekarang kok gampang ngeluh?”
Melainkan: “Apakah sistem pembelajaran kita sudah seefektif mungkin untuk cara otak manusia belajar?”
Kalau jawabannya jujur masih “belum”, maka keluhan “IPA terlalu ribet” bukan gangguan yang harus disenyapkan, tetapi alert sistem yang perlu ditangani.
Dan di titik itu, mungkin tugas kita bukan menyuruh anak “terima saja IPA itu susah”, tetapi meng-install pola pikir baru: sains itu memang kompleks, tapi cara kita memandu anak masuk ke kompleksitas itu tidak harus membuat mereka merasa bodoh dan kelelahan sejak awal.
"Data tak pernah berbohong, tapi butuh penerjemah yang tepat."